Pemilih Milenial Ogah Pilih Dinasti Politik

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Kontestasi politik di Kabupaten Sleman menuai reaksi beragam dari kalangan pemilih milenial. Banyak di antara kaum milenialis antusias menyambut pesta demokrasi pada 9 Desember mendatang. Namun mereka punya catatan sendiri menyoal dinasti politik, yang hingga saat ini hangat diperbincangkan.

Mereka mengaku enggan memilih calon kepala daerah yang didukung oleh dinasti politik. Ada banyak faktor yang membuat kelompok demografis berusia 20-30an tahun ini menolak politik kekeluargaan. Mulai dari faktor permainan elite, ambisi meraih kekuasaan, dan kemunduran dalam berdemokrasi.

Misalnya Mahendra Nugraha, pemuda asal Purwomartani Kalasan ini menilai, dinasti politik hanya menguntungkan elite dinasti. Dalam peta politik di Sleman, ia merasa calon dari dinasti politik tidak istimewa, sekalipun prosesnya melalui pemilihan.

“Meskipun lewat pemilihan, dinasti politik itu bermula dari elite, oleh elite dan kembali pada elite. Saya tidak setuju, ini kan hanya menguntungkan mereka. Apalagi rekam jejak kandidat yang diback-up dinasti itu tidak memenuhi ekspektasi. Kualitasnya sangat jauh untuk memimpin Sleman,” ujar pengusaha muda yang bergerak di jasa laundry perhotelan itu, Selasa (24/11/2020).

Berbeda dengan Mahendra, Yudho Prabowo punya alasan lain menilai dinasti politik. Sebagai pemilih pemula, mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UMY ini berpendapat, dinasti politik akan membentuk ekosistemnya seperti rantai makanan. Seluruh komponen akan bekerja saling menguatkan. Rantai tersebut akan memanjang karena suplai makanan dari kekuasaan tak pernah habis. Semakin lama berkuasa, semakin panjang rantai makanan itu.

“Seperti teori rantai makanan pada hewan, dinasti politik akan langgeng. Antaranggota dinasti saling menguatkan. Wajar jika dinasti politik ambisi untuk berkuasa. Mereka tak ingin kekuasaannya terputus,” kata Yudho, warga asal Tirtoadi Mlati.

Sebagai segmentasi politik, pemilih milenial memiliki selera tersendiri dalam memilih pasangan calon. Idealisme milenial sangat kuat untuk memilih pemimpin. Hal ini diakui oleh Sobri Emiga Sando, warga asal Ngemplak Wedomartani.

Faktor melek politik (political literacy) mendorong pemilih milenial selektif menentukan pilihannya. Dalam konteks dinasti politik, strategi pencitraan, politik uang, dan modus melalui bantuan sosial tidak akan meruntuhkan idealisme pemilih milenial.

“Ini menjadi catatan bagi pelaku dinasti politik, tidak semua masyarakat termakan dengan kemasan dinasti. Latar belakang dan kualitas calon sangat mudah ditelusuri. Saat masyarakat semakin cerdas berdemokrasi, entah kenapa dinasti politik semakin jadi,” tutur Emiga, dokter muda alumnus Universitas Islam Indonesia. (Has)

BERITA REKOMENDASI