Pemkab Sleman Segera Tentukan Status Bangunan di KRB III

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tengah menyusun tabel ITBX (Izin, Terbatas, Bersyarat, Dilarang (x)) atau peraturan zonasi untuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) III. Hal ini dilakukan karena sampai sekarang masih ada sejumlah bangunan yang jelas-jelas melanggar tata ruang dan tata wilayah.

Dengan adanya tabel ITBX tersebut sekaligus untuk menentukan nasib bangunan yang ada di KRB III. Pasalnya, meski tahun lalu sudah dipasang papan tanda bahaya dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR), tetap saja keberadaan bangunan-bangunan ilegal tersebut masih ada sampai sekarang. Bahkan ada juga yang justru melakukan pengembangan.

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) M Sugandi mengatakan, dengan tabel ITBX nantikan akan semakin jelas. Jika memang diizinkan ya berarti tidak ada masalah. Kalau terbatas, terbatasnya bagaimana.

"Jika ditentukan bersyarat. Bersyaratnya juga yang bagaimana. Kalau dinyatakan dilarang yang berarti tidak boleh. Sampai saat ini kami masih menunggu proses penyusunan ITBX itu dari Bappeda," ujarnya, Selasa (20/3).

Mengenai adanya pengembangan bangunan yang ada di KRB III, tim dari Dispertaru akan terus melakukan pengawasan. Apalagi dengan informasi adanya alat berat masuk ke lokasi itu. 

Terpisah Kepala Bappeda Sleman Kunto Riyadi membenarkan jika sudah ada pembahasan tentang ITBX. Mengenai kapan tabel tersebut akan disahkan, dia menegaskan secepatnya.

"Tentu secepatnya. Namun, ada hal yang harus masyarakat ketahui. Pemerintah itu berada di tengah antara lingkungan, sosial dan ekonomi. Jadi apapun nanti yang akan diputuskan, diusahakan bisa seimbang. Tidak condong ke lingkungan, ekonomi maupun sosial itu sendiri," jelasnya.

Disisi lain Bupati Sleman Sri Purnomo memastikan jika bangunan yang ada di KRB III itu ilegal. Pihaknya juga akan mengecek terkait adanya alat berat yang masuk di lokasi itu. 

Saat disinggung terkait wacana lokasi itu menjadi wisata edukasi tentang kebencanaan, bupati akan meminta masukan dari tim ahli kebencanaan. "Soal wisata edukasi kebencanaan lebih tepatnya orang ahli bencana yang berbicara. Nanti kita lihat rekomendasinya bagaimana," tegasnya. (Awh)

BERITA REKOMENDASI