Penanggungjawab Pramuka di SMPN 1 Turi Layak Dipidanakan

SLEMAN, KRJOGJA.com – Menyikapi peristiwa hanyutnya beberapa siswa siswi yang mengikuti kegiatan pramuka susur Sungai Sempor pada hari jum at 21 februari 2020 di dusun dukuh, donokerto, turi, Sleman dan mengakibatkan meninggal, saya secara pribadi menyatakan berduka yang mendalam atas peristiwa tersebut.
Advokat yang bernaung di kantor hukum Akhlis Mukhidin & Partners, Hamza akhlis mukhidin,SSn,SH,MH menyampaikan bahwa Peristiwa tersebut patut di duga karena faktor kelalaian, bukan sebuah musibah.
Karena menurut informasi di lapangan,kegiatan pramuka susur sungai yang lakukan oleh siswa siswi SMP N 1 turi tanpa mempertimbangkan kondisi cuaca pada saat itu terjadi banjir yang mengakibatkan hanyutnya peserta kegiatan pramuka susur sungai tersebut.
Ada 3 siswa yang di temukan meninggal karena hanyut saat susur sungai menurut Humas badan SAR nasional Daerah istimewa Yogyakarta Pipit Eriyanto pada hari jum at,21 Februari 2020.
Pada saat itu, Siswa siswi SMP N 1 turi yang mengikuti kegiatan pramuka susur sungai sempor dari kelas 7 dan kelas 8 dengan jumlah 249.
Menurut sumber dari Badan Penanggulan Bencana Daerah DIY per tanggal 22 Februari 2020 pukul 05.00 wib, Dari sejumlah 249 siswa siswi yang mengikuti kegiatan pramuka susur sungai sempor yang selamat di data oleh pihak sekolah dengan jumlah 216 pelajar, Luka 23, meninggal dunia 7 dan yang belum ditemukan 3 pelajar.
Atas peristiwa tersebut menurut advokat Hamza Akhlis mukhidin,SSn,SH,MH pihak sekolah dalam hal ini penanggung jawab kegiatan tersebut dapat di jerat pidana dengan pasal 359 KUHP.
“Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun. Dalam hukum pidana,Kelalaian,kesalahan , kurang hati hati atau kealpaan disebut dengan culpa.”
Ahlis mengutip, R. Soesilo (1996), kematian dalam konteks Pasal 359 KUHP tidak dimaksudkan sama sekali oleh pelaku. Kematian tersebut hanya merupakan akibat kurang hati-hati atau lalainya terdakwa (delik culpa). Jika kematian itu dikehendaki terdakwa, maka pasal yang pas adalah 338 atau 340 KUHP.
Adapun mnurut SR Sianturi (1983), kata Ahlis kealpaan pada dasarnya adalah kekuranghati-hatian atau lalai, kurang waspada, semberono, teledor, kurang menggunakan ingatan, khilaf. Sekiranya dia hati-hati, waspada, tertib atau ingat, peristiwa kecelakaan itu tidak akan terjadi atau bisa dicegah.
Ahlis menambahkan dari peristiwa yang terjadi di SMP N 1 turi dalam kegiatan pramuka susur sungai sempor  yang mengakibatkan hanyut dan meninggalnya beberapa siswa siswi, kiranya bisa di jadikan perhatian yang serius bagi dinas pendidikan setempat dan pihak sekolah untuk mengevaluasi kembali secara menyeluruh dan secara khusus perihal kegiatan kegiatan sekolah diluar lingkungan sekolahan baik itu kegiatan seperti pramuka ataupun kegiatan kegiatan yang sejenis di sekolah sekolahan. (*)

BERITA REKOMENDASI