Pendidikan Bahasa dan Seni untuk Kebudayaan Pancasila

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pendidikan bahasa dan seni diharapkan bisa berkontribusi pada terbentuknya sistem kebudayaan yang lebih besar menuju kebudayaan Indonesia atau kebudayaan Pancasila. Hal ini diungkapkan Guru Besar Metodologi Pengajaran Bahasa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Suwarsih Madya MA PhD pada Pidato Dies Natalis ke-59 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) di Performance Hall Fakultas Bahasa dan Seni UNY, Selasa (10/05/2022).

Dalam pidato berjudul ‘Pendidikan Bahasa dan Seni sebagai Jalan Kebudayaan’ tersebut, Prof Suwarsih menerangkan, pendidikan bahasa dan pendidikan seni diharapkan untuk tidak terlalu asyik dengan diri sendiri, melainkan keduanya mesti saling mengakui keberadaannya. “Saling membutuhkan, saling tergantung dan oleh karenanya perlu berkolaborasi untuk merintis jalan bagi anggota masing-masing. Baik secara perorangan maupun kelompok, untuk berkontribusi pada terbentuknya kebudayaan dambaan masyarakat,” jelasnya.

Pendidikan bahasa dan seni diharapkan menjadi gerbang memasuki sistem kebudayaan yang lebih besar. Pasalnya, dengan mempertimbangkan jangkauan langkah kedua bidang tersebut, kebudayaan dambaan bukanlah merupakan titik akhir perjalanan, melainkan menjadi bagian dari berbagai upaya besar menuju kebudayaan Indonesia atau kebudayaan Pancasila.

Kebudayaan tersebut adalah yang mengacu pada Ketuhanan Yang Maha Esa, yang merupakan sila pertama Pancasila. “Kebudayaan Pancasila juga bukan tujuan akhir, melainkan sarana menuju kehidupan kekal di akhirat, yang kita sama-sama diyakini adanya. Visi kehidupan kekal yang bahagia akan mengilhami dan mendorong kita semua untuk membangun kehidupan di dunia, kehidupan di alam semesta yang penuh rahmat, sarat dengan kebajikan,” bebernya.

Lebih lanjut dikatakannya, penyelenggara pendidikan seni hendaknya memastikan bahwa pada akhir program para mahasiswa memiliki kemampuan dan keterampilan berkarya seni dengan memperhatikan fungsi seni yang potensial membantu mereka berkiprah untuk memenuhi mandat. Begitu juga penyelenggara pendidikan bahasa perlu dipastikan mengarah pada tercapaikan penguasaan kompetensi komunikatif antarbudaya bersama penerapannya.

Sehingga lulusan dapat menggunakan bahasa untuk memenuhi fungsi-fungsinya secara efektif. “Untuk mencapai hasil yang lebih besar dan lebih baik dengan sumber daya yang sama atau bahkan lebih sedikit, diperlukan kolaborasi dan sinergi dalam pembangunan pendidikan bahasa termasuk sastra, yang kental dengan kandungan seni, dan pendidikan seni,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan FBS Dr Sri Harti Widyastuti berharap agar dalam usia ke-59 tahun ini FBS dapat memberi kontribusi yang signifikan dalam bidang tugasnya yaitu Pendidikan dan keilmuan bahasa dan seni. “Semoga fakultas ini dapat terus mengembangkan potensi dengan memegang teguh nilai-nilai untuk mewujudkan tercapainya visi dan misi FBS UNY,” katanya.

Sementara itu Rektor UNY, Prof Dr Sumaryanto MKes AIFO pihaknya berharap dalam Dies Natalis ke-59 ini FBS dapat terus meningkatkan mutunya dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Peningkatan SDM baik dari kuantitas dan kualitas, baik itu dari peningkatan dosen, tenaga pendidikannya dan lain-lainnya. Kami siap untuk mendukung study lanjutannya,” bebernya. (Hit)

BERITA REKOMENDASI