Peneliti Indonesia Didorong Berinovasi

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Jumlah penelitian akademisi di Indonesia masih sangat kecil dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Singapura. Padahal, penelitian yang inovatif saat ini sangat berpengaruh pada kemajuan sebuah negara terutama di era industri 4.0.

Setidaknya fakta inilah yang mengemuka pada forum Seminar Nasional dan Kuliah Umum bertema TANTANGAN PENELITIAN MENGHADAPI INDUSTRIALISASI 4.0 : Arti dan Nilai Riset pada Karir Dosen serta Kemajuan Sains & Teknologi Komisi Ilmu Sosial di kampus Pascasarjana UGM, Selasa (27/11/2018) siang. Puluhan peneliti, para pelaku penelitian, lembaga penelitian, dosen, non dosen serta anggota KIS-AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia) turut dalam agenda tersebut.

Dr Ir Jumain Appe, Msi Dirjen Penguatan Dan Inovasi Kemenristekdikti mengatakan era industri 4.0 yang saat ini mulai terjadi membutuhkan penyesuaian dari berbagai pihak termasuk salah satunya universitas. Caranya menurut dia tema penelitian yang diangkat perguruan tinggi diselaraskan dengan berbagai kebutuhan industri.

“Pemerintah mendorong perguruan tinggi bertransformasi dari agent of education menjadi agent of economic development. Thridarma perguruan tinggi yang selama ini berakhir pada pengabdian masyarakat ditambahkan satu indikator menjadi inovasi untuk masyarakat. Karena itu hasil riset perguruan tinggi harus diharmonisasikan,”  ungkapnya.

Meski begitu, peneliti di Indonesia tak serta-merta mengandalkan inovasi saja untuk menghasilkan sebuah penelitian berkualitas. Faktor eksternal seperti tersedianya dana dan adanya beban mengajar membuat produktivitas menghasilkan penelitian tak seperti seharusnya.

“Dana penelitian hanya kecil 0,03 persen dari pendapatan negara sangat jauh dari Jepang yang sudah mencapai 4 persen. Kemudian masih adanya beban mengajar tinggi yang membuat para dosen tidak produktif melakukan riset. Ini beberapa hal yang masih menjadi tantangan penelitian di Indonesia,” ungkap Prof Dr Sofian Effendi, peneliti AIPI yang juga Guru Besar Kebijakan Publik UGM.

Sofian beranggapan pemerintah harus mengubah kebijakan dengan membangun perguruan tinggi sebagai katalisator pembangunan industri digital melalui pendidikan, penelitian dan inovasi. “Indonesia masih pemula di industri 4.0 dan berpeluang gagal. Karena itu perlu penyesuaian bagaimana relevansi skill yang diajarkan untuk pengembangan industri 4.0 harus ditingkatkan, reformasi penilaian dosen juga harus dilakukan termasuk menurunkan administrasi dosen sehingga peran perguruan tinggi sebagai katalisator industri 4.0 kuat,” tegasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI