Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan Diikrarkan

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pencemaran air sungai di wilayah DIY karena industri maupun rumah tangga dinilai sangat memprihatinkan. Padahal, sungai masih menjadi andalan para petani untuk mengairi sawah yang jadi ladang mengais rejeki.

Fakta inilah yang menjadi keprihatinan bersama komunitas sungai, paguyuban petani, akademisi Fakultas Teknologi Pertanian UGM dan berbagai elemen masyarakat lainnya hingga memutuskan untuk melakukan deklarasi pengelolaan sumber daya air berkelanjutan di Lembah UGM Selasa (19/12/2017). Berbagai elemen masyarakat berkumpul di salah satu sumber suplai air kawasan Bulaksumur tersebut untuk menggaungkan semangat sungai bebas pencemaran baik padat, cair dan gas.

Sunadi Wiyono, salah satu perwakilan dari Gerakan Irigasi Bersih Merti Tirta Amartani Bantul mengungkap sungai-sungai besar yang membelah DIY saat ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Banyak masyarakat di sepanjang aliran sungai yang belum menganggap sungai sebagai halaman depan yang harus dirawat bersama.

“Keadaan semakin diperparah karena sungai-sungai besar yang notabene digunakan sebagai irigasi seperti Progo, Gajah Wong, Opak, Winongo sudah tercemar. Imbasnya sudah sangat terasa di mana sawah yang ditanami melon, tomat, bawang putih, bawang merah, cabai tidak berkembang,” ungkapnya pada wartawan usai deklarasi.

Sebenarnya menurut Sunadi, pencemaran sudah dirasakan sejak periode 2010 lalu, namun beberapa waktu terakhir semakin terasa dampak buruknya bagi pertanian. “Sekarang tanaman sudah tidak bisa berbuah, jangankan berbuah karena berkembang saja sangat sulit,” imbuhnya.

Sementara Guru Besar Teknologi Pertanian UGM Sigit Supatno Arif tak menampik permasalahan yang dihadapi para petani. Menurut dia, sumber irigasi dari sungai saat ini tak lagi menyuburkan pertanian namun malah membuat tanaman gagal berkembang.

“Air sungai di DIY ini sudah rusak, untuk irigasi bukan menyuburkan malah merusak. Ada solusi lain bagi petani menggunakan air tanah namun biaya yang dikeluarkan membuat biaya perawatan dengan hasil tidak sebanding. Masyarakat harus sadar dan bertindak untuk menghargai sungai, tidak membuang apapun yang bisa mencemari sungai,” ungkapnya.

Sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan HB X meminta instansinya untuk berusaha keras mewujudkan sungai sebagai halaman depan rumah masyarakat. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat menjaga kelestarian sungai seperti apa yang akan dilakukan pada halaman depan rumah. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI