Peran Muhammadiyah dalam Perjalanan Indonesia Dikupas, Lahirkan Tokoh dari Ahmad Dahlan Hingga Syafii Maarif

Editor: Agus Sigit

SLEMAN, KRJOGJA.com – Persoalan dan tantangan bangsa Indonesia semakin kompleks saat ini. Kolaborasi antar elemen serta hadirnya rasa kebangsaan di antara segenap anak bangsa menjadi kunci mengatasi persoalan yang terjadi.

Secara historis, proses berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran berbagai organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah, NU, PERSIS, dan lain sebagainya. Muhammadiyah sebagai kekuatan nasional sejak awal berdirinya pada tahun 1912 telah berjuang dalam pergerakan kemerdekaan dan melalui para tokohnya terlibat aktif mendirikan Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Setelah Indonesia merdeka, pada berbagai periode pemerintahan hingga periode reformasi, pengabdian Muhammadiyah terhadap bangsa dan negera terus berlanjut. Misi kebangsaan Muhammadiyah ini didorong keinginan yang kuat agar Indonesia mampu melangkah ke depan sejalan dengan cita-cita kemerdekaan

“Muhammadiyah ikut “berkeringat” di dalam usaha-usaha memajukan kehidupan bangsa. Muhammadiyah meyakini bahwa Indonesia dapat mencapai tujuan untuk menjadi negara dan bangsa yang berkemajuan, yakni terciptanya kehidupan kebangsaan yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat sebagaimana yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945,” ungkap Anggota MPR RI M Afnan Hadikusumo dalam acara Sosialisasi Empat Pilar Bernegara yang diselenggarakan MPR Bersama Pusat Studi Muhammadiyah, Sabtu (19/3/2022).

Senada dengan Afnan, Bachtiar D. Kurniawan Ketua Pusat Studi Muhammadiyah manyampaikan, Muhammadiyah telah banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional yang berkontribusi bagi pencerdasan, kemajuan, dan perubahan kehidupan bangsa Indonesia. Dari rahim Muhammadiyah menurut dia hadir tokoh-tokoh yang berjuang pada masanya masing-masing.

“Ada Amien Rais sebagai tokoh reformasi, Buya Syafii Maarif tokoh pluralisme dan kemanusiaan, serta Din Syamsuddin tokoh lintas agama di tingkat nasional sampai internasional. Bahkan tidak sedikit yang kemudian diangkat menjadi pahlawan nasional, misalnya saja Kiai Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah Dahlan bergerak dalam mencerdaskan dan memajukan bangsa,” ungkapnya.

Tak hanya itu, nama-nama seperti Kiai Mas Mansur yang menjadi tokoh Empat Serangkai bersama Soekarno, Mohammad Hatta dan Ki Hadjar Dewantoro dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia berperan begitu besar. Termasuk pula jasa Ki Bagus Hadikusumo didukung Kahar Muzakkir dan Kasman Singodimedjo menjadi penentu konsensus nasional penetapan UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945 sebagai konstitusi dasar sekaligus di dapamnya penetapan Pancasila sebagai dasar negara.

“Dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan, kontribusi Muhammadiyah terbesar melalui Soedirman adalah perang gerilya dan melahirkan serta menjadi Bapak Tentara Nasional Indonesia, yang tiada duanya. Gerakan cinta tanah air ini bermodalkan spirit Hizbul Wathan atau Kepanduan Tanah Air yang dirintis tahun 1918, di mana Soedirman menjadi pandu utamanya,” ungkapnya lagi.

Bersamaan dengan perang gerilya, aksi mempertahankan Indonesia dari serbuan kembali Belanda di DIY dan Jawa Tengah para tokoh Muhammadiyah menggerakkan aksi Angkatan Perang Sabil (APS), yang merupakan perlawanan umat Islam yang luar biasa militan demi mempertahankan bangsa dan tanah air. Tidak kurang, Presiden RI pertama Soekarno juga aktivis Muhammadiyah, bahkan menjadi pengurus Majelis Pendidikan sewaktu di Bengkulen (Bengkulu).

“Tokoh utama kemerdekaan dan proklamator serta Presiden pertama Indonesia itu lama bergaul dan ‘ngintil’ (berguru secara informal) dengan Kiai Dahlan. Ini menjadi bukti bahwa Muhammadiyah ada untuk Indonesia,” pungkas dia.

Afnan Hadikusumo meyakini bahwa Muhammadiyah akan terus ada untuk Indonesia, menjadi salah satu elemen yang berupaya mencari jalan keluar terbaik untuk persoalan Indonesia. “Ini mengapa, kita harus terus dengungkan agar rasa kebangsaan di antara anak bangsa ini terus menggelora,” pungkas wakil rakyat yang juga cucu Ki Bagus Hadikusumo ini. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI