Petani Sleman Timur Kekurangan Pasokan Air

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Para petani di wilayah Sleman Timur mengeluhkan fungsi air di Selokan Mataram yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Selain debit air yang saat ini belum terlalu banyak, aliran air di Selokan Mataram digunakan untuk perairan petani ikan di wilayah Grojogan Depok. Akibatnya petani di wilayah hilir selokan tidak mendapat suplai air untuk pengairan lahan mereka.

Ketua Forum Petani Kalasan Janu Riyanto mengatakan, permasalahan ini sebenarnya sudah berlangsung lama sekitar tahun 2007. Biasanya para petani dalam setahun bisa menanam dua hingga tiga kali. Namun setelah air di Selokan Mataram tidak sampai ke lahan mereka, dalam setahun hanya bisa satu kali tanam.

"Meski bisa tanam, kami menggunakan pompa air swadaya. Padahal untuk mengairi 1.000 hektare paling tidak butuh biaya Rp 150.000 dan butuh 6-8 kali pengairan, pengeluaran kami bisa bengkak. Tidak lagi untung tapi buntung," ungkap Janu.

Kepala Bidang Operasional dan Pemeliharaan Sungai Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) Syahril menambahkan, Selokan Mataram II sepanjang 15,8 kilometer dan terjadi masalah di Grojogan Depok. Air Selokan Mataram tidak sampai ke hilir karena ada pengambilan tidak sesuai perencanaan awal.

"Fungsi pintu penguras itu berubah. Karena ada petani ikan yang berada di hulu, mereka mengambil air di Selokan Mataram II. Pengambilan air yang berlebihan menyebabkan air tidak sampai ke hilir seperti Kalasan, Prambanan dan Berbah. Pintu air ini dibuka sesuai keinginan mereka," beber Syahril.

Selama ini pihak BBWSO sudah melakukan berbagai upaya seperti penggembokan pintu irigasi. Namun selalu saja dirusak oleh oknum tak bertanggungjawab. (Aha)

BERITA REKOMENDASI