PGRI Beri Bantuan Hukum Tersangka Pembina ‘Susur Sungai Maut’

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) memastikan akan memberikan bantuan hukum bagi pembina IYA yang telah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan kelalaian yang menyebabkan korban jiwa dalam kegiatan susur sungai Pramuka SMPN 1 Turi. PGRI meminta seluruh pihak agar tak hanya menyalahkan guru semata, seperti yang terjadi beberapa hari kebelakang.

Ketua Umum Pengurus Besar PGRI, Unifah Rosyidi mengungkap pihaknya sengaja mengunjungi SMPN 1 Turi untuk mengetahui duduk permasalahan secara menyeluruh. Mereka juga membawa serta LKBH yang menjadi penasihat hukum PGRI sebagai langkah pendampingan hukum.

“Kami mau berbicara dengan semua, mendengar suara hati para guru, mau mendengar juga dari kepolisian. Kami ingin mencari yang terbaik, tapi kami memohon jangan semata-mata guru yang dipersalahkan,” ungkap Unifah ketika ditemui media di SMPN 1 Turi, Senin (24/2/2020).

Secara khusus PGRI bersiap memberikan pendampingan hukum pada pembina IYA yang sebelumnya sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh jajaran kepolisian. “Kami dari pusat memastikan akan ada pendampingan hukum pada guru tersebut,” tandas dia.

Sementara Ketua LKBH Penasihat Hukum PGRI, Ahmad Wahyudi mengatakan dari penelusuran awal yang dilakukan, pihaknya tak menemukan pelanggaran prosedural yang dilakukan pihak sekolah dalam hal penyelenggaraan program susur sungai Pramuka yang akhirnya menewaskan 10 siswi tersebut. Meski begitu, LKBH berjanji akan mendalami lagi sisi materiil termasuk memberikan pendampingan hukum pada pembina yang sudah menjadi tersangka.

“Secara administrasi, prosedural tidak ada permasalahan, sudah benar. Tentang kelalaian yang bisa menilai penyidik, kami tak berani karena itu wilyah kepolisian. Prosedural perencanannya sudah benar, hanya kita sampaikan bicara hulu ke hilir prosedur administrasinya perencanaan ke permukaan sudah benar, termasuk pembina ditunjuk ditugaskan melalui SK sekolah. Kami akan dampingi secara hukum pada yang bersangkutan, agar kami mengetahui secara detail. Kami akan dampingi jika proses hukum berlanjut, atau tidak,” tegas dia.

Ahmad Wahyudi juga melempar harapan agar masyarakat tak menghakimi terlebih dahulu dan terkesan menyalahkan guru atas peristiwa nahas yang terjadi di Sungai Sempor Donokerto Turi Sleman. “Tapi kami berjanji akan melakukan pendalaman lagi agar tak terjadi judgement. Jangan ada dulu lah bahaya itu judgement,” tandas Ahmad yang juga ditimpali Unifah. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI