Pohon Waru ‘Menangis’ di Tempel, Begini Penjelasan Ilmiahnya

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Sebuah pohon Waru di kawasan Jetis, Mororejo Tempel Sleman menyita perhatian warga karena terus menerus mengeluarkan air sejak beberapa hari terakhir. Banyak yang kebingungan dengan fenomena tersebut dan membuat penasaran warga.

Guru Besar Fakultas Kehutanan Instiper, Prof Dr Ir Sumardi MForSc mengatakan fenomena pohon waru mengeluarkan air merupakan peristiwa alam yang lazim terjadi. Proses tersebut dinamakan gutasi apabila tidak terdapat gejala patologis.

“Jadi, kalau tidak ada gejala patologis, kemungkinan penjelasan ilmiah yang ada adalah proses yang disebut ‘gutasi’. Ini sering terjadi seperti kalau kita amati, di bawah pokok pohon cemara udang di Kebumen, pagi hari basah seperti bekas hujan malamnya. Ini juga peristiwa gutasi. Dengan catatan kalau tidak ada gejala patologis seperti serangan jamur, bakteri atau virus,” ungkap Prof Mardi kepada KRJOGJA.com, Rabu (11/11/2020).

Proses gutasi menurut Prof Sumardi biasanya terjadi pada malam hari sebelum matahari terbit, yakni melalui hidatoda di permukaan daun. Namun gutasi juga bisa terjadi pada siang hari, dimana air keluar melalui kutikula.

“Gutasi bisa terjadi karena air yang diserap oleh tanaman dalam jumlah banyak dan laju transpirasi rendah. Prosesnya mirip transpirasi. Bedanya kalau transpirasi bentuk air yang dikeluarkan adalah uap, sedang gutasi dalam bentuk air,” ungkapnya lagi.

Sementara analisis sama disampaikan ahli Fisiologi Tanaman Fakultas Pertanian UGM, Dr Endang Sulistyaningsih yang mengatakan penyebab gutasi pada pohon waru di Tempel sangat mungkin dipengaruhi kondisi udara dalam beberapa hari terakhir. Suhu udara di Yogyakarta mengalami kenaikan yang bisa membuat tanaman mengalami gutasi.

“Misal tanah di sekitar tanaman lembab tapi suhu udara tinggi dan mempunyai tekanan akar tinggi sehingga bisa menyerap air dan menyimpan di sel daun sehingga kandungan air nisbi daun meningkat. Namun suhu udara yang tinggi menyebabkan stomata di daun menutup dan air tetap tersimpan di sel daun. Jika malam atau dini hari suhu udara masih tinggi maka air akan keluar melalui jaringan hidatoda dalam bentuk cairan atau tetesan air. Tetesan air itu yang kemudian bisa menetes ke tanah,” terang Endang. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI