Potensi Kekeringan DIY Meluas

SLEMAN,KRJOGJA.com – BMKG kembali merilis update peringatan dini potensi kekeringan meteorologis di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Daerah terdampak paling parah adalah Kabupaten Bantul dan Gunungkidul.

"Kekeringan yang dimaksud adalah kekeringan meteorologis, yaitu berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya, dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst)," kata Kepala Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas dalam keterangannya, Kamis (12/9/19).

Berdasarkan pengamatan BMKG update tanggal 10 September 2019, rangking pertama yang berpotensi kekeringan adalah Kecamatan Dlingo, Bantul yang telah terjadi hari tanpa hujan berturut-turut selama 159 hari. Selanjutnya meliputi Kabupaten Gunungkidul (Kecamatan Tanjungsari) dan Kulon Progo (Panjatan dan Galur) selama 146 hari.

Kemudian hari tanpa hujan selama 145 hari meliputi Bantul (Pandak, Bantul, Piyungan) dan Gunungkidul (Saptosari). 
Hari tanpa hujan berturut-turut selama 60 hari yang berpotensi kekeringan di Kecamatan Bambanglipuro, Banguntapan, Bantul, Dlingo dan Imogiri. Selanjutnya Jetis, Kasihan, Kretek, Pajangan, Pandak, Piyungan, Pleret, Pundong, Sanden, Sewon (Kabupaten Bantul), Girisubo, Karangmojo, Ngawen, Nglipar, Paliyan, Patuk, Playen, Ponjong, Purwosari, Rongkop, Saptosari, Semanu, Semin, Tanjungsari, Tepus, Wonosari (Gunungkidul), Galur, Girimulyo, Kalibawang, Kokap, Lendah, Nanggulan, Panjatan, Sentolo, Temon, Wates (Kulon Progo), Maguwoharjo, Berbah, Cangkringan, Gamping, Godean, Kalasan, Moyudan, Ngaglik, Ngemplak, Pakem, Prambanan, Tempel (Sleman).

"Kemudian di Berbah dan Prambanan (Sleman) mengalami hari tanpa hujan berturut-turut selama 31-60 hari," imbuhnya. (Ive).
 

BERITA REKOMENDASI