Produk DIY Mampu Tembus Pasar Dunia

SLEMAN, KRJOGJA.com – Potensi pariwisata, budaya serta industri kreatif yang dimiliki DIY sangat besar, yang sebetulnya bisa merambah pasar dunia. Hanya saja potensi-potensi tersebut belum terpromosikan secara baik di luar negeri, sehingga belum dikenal luas.

"Saya sangat setuju dengan cita-cita Presiden Joko Widodo bahwa produk-produk Indonesia harus bisa go-internasional dan menembus pasar dunia. Upaya promosi harus lebih gencar dilakukan. Asal semua kompak, produk DIY akan mampu tembus pasar dunia," terang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Swedia merangkap Republik Latvia, Bagas Hapsoro SH MA dalam acara bincang-bincang di Restoran Bornga, Lempongsari Ngaglik Sleman, Sabtu (17/2/2018) malam.

Acara dihadiri sejumlah tokoh/pejabat antara lain, Danrem 072/Pamungkas Kolonel Kav Mohammad Zamroni SIP, Rektor UGM Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng, Bupati Sleman Sri Purnomo, Direktur Utama PT BP Kedaulatan Rakyat dr Gun Nugroho Samawi, Direktur Asosiasi Korea Yogyakarta Cho Yong Chae dipandu moderator Pemimpin Redaksi KR Drs Octo Lampito MPd.

Menurut Bagas, kekuatan DIY adalah pada eknomi kreatif dengan banyaknya anak-anak muda kreatif dibidang teknologi informasi serta pelaku UKM. Agar lebih berdaya saing, para pelaku UKM perlu didampingi oleh pemerintah daerah, akademisi dari perguruan tinggi serta industri. "Salah satu kesulitan menembus pasar Eropa termasuk Swedia dan Latvia, produk harus mengantongi sertifikat standarisasi dari Uni Eropa. Maka dari itu UKM perlu didampingi," kata Bagas. Sedangkan untuk mempromosikan pariwisata dan produk unggulan perlu diperbanyak mengikuti event-event pameran.

Sri Purnomo mengatakan, di sektor pariwisata, Kabupaten Sleman punya unggulan seperti Candi Prambanan, Candi Ratu Boko dan Lava Tour yang antrean untuk menaikinya bisa 2-3 jam saat libur panjang. Selain itu Sleman punya banyak desa wisata yang sangat digemari wisatawan untuk merasakan kehidupan sehari-hari warga pedesan. "Kami juga punya Kopi Merapi yang terus kita kenalkan baik dalam maupun luar negeri," katanya.

Dosen Teknik Arsitektur UGM sekaligus Direktur Research and Development Galeri Batik Jawa Dr Laretna T Adhisakti, sabagai kota batik dunia, Yogyakarta punya produk yang sudah diakui dunia yaitu batik. Meski merupakan warisan budaya dunia, namun batik Yogyakarta perlu inovasi agar diterima pasar internasional, apalagi konsumen luar negeri lebih menyukai produk dengan bahan ramah lingkungan yaitu warna alam. (Dev)

BERITA REKOMENDASI