Produk Indonesia Masih Kurang ‘Pede’ di Pasar Eropa

SLEMAN, KRJOGJA.com – Produk Indonesia sebenarnya punya keunggulan sekaligus keunikan yang bisa diterima pasar Eropa. Tinggal ditingkatkan mutunya sehingga memenuhi standar Uni Eropa. 

"Produk Indonesia perlu lebih gencar dimunculkan keunggulannya semisal keaslian atau cerita dibalik produk, lewat media sosial," terang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Swedia merangkap Republik Latvia Bagas Hapsoro SH MA dalam acara bincang-bincang di Restoran Bornga, Lempongsari Ngaglik Sleman, Sabtu (17/2/2018) malam.

Menurut Bagas, kekurangan pengusaha Indonesia selama ini, sering tidak percaya diri bersaing dengan produk negara tetangga seperti Thailand, Vietnam atau Filipina. Contohnya Kopi Gayo asal Aceh yang sangat digemari masyarakat Eropa. Namun karena tidak 'Pede' justru banyak dipalsu dengan kopi-kopi dari Brasil. 

Contoh lainnya, kata Bagas adalah durian. Meskipun buah asli Indonesia tapi di pasar Eropa justru didominasi durian Thailand yang memang sudah dikelola dengan baik. "Butuh kekompakan dari semua pihak, pemerintah, swasta dan pelaku usaha untuk membuat produk Indonesia mampu bersaing dan diterima pasar," katanya.

Di sektor pariwisata, Indonesia juga kaya objek-objek wisata kelas dunia. Menurut Bagas, warga Eropa terutama Swedia sangat suka dengan wisata alam (ecotourism) serta wisata budaya. Mereka sangat senang melihat orangutan, komodo serta keindahan alam Indonesia. Hal yang sering dikeluhkan yakni masalah standar pelayanan serta kebersihan lingkungan (banyak sampah). 
"Kekayaan alam dam budaya Indonesia merupakan keunggulan pariwisata yang tidak dimiliki negara lain. Komitmen kita bersama untik meningkatkan pelayanan para pelaku wisata lewat sertifikasi," kata Bagas.

Dikatakan Bagas, sebagai wakil pemerintah Indonesia di Swedia dan Latvia, pihak kedutaan besar terus berupaya mempromosikan produk Indonesia di Eropa. Bagas tertarik dengan kopi asli DIY yaitu Kopi Merapi dan Kopi Suroloyo serta Batik warna alam Indigofera dari Galeri Batik Jawa. 
Menurutnya, kedua produk tersebut punya peluang besar diterima pasar Eropa. Komunitas Kopi Nusantara terus mempromosikan kopi-kopi dari berbagai daerah di Indonesia dengan memperbanyak event-event salah satunya Malioboro Coffe Night. (Dev)

BERITA REKOMENDASI