Produksi Padi di Sleman Timur Menurun

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pasokan air sangat berpengaruh pada hasil panen padi yang diperoleh petani. Seperti wilayah Kalasan, Berbah, Prambanan yang hasil taninya mengalami penurunan selama empat tahun terakhir. Salah satu faktornya karena tidak ada air yang mengalir dari Selokan Mataram. Ditutupnya pintu air flushing di Grojogan dan pipa yang di Onggomertan Maguwoharjo Depok menjadi angin segar para petani untuk mendongkrak hasil panen mereka.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Heru Saptono mengakui adanya penurunan produksi padi di wilayah Berbah, Kalasan dan Prambanan dalam empat tahun terakhir. Dari data yang disampaikan, di wilayah Berbah tercatat pada 2016 produksi mencapai 19,05 ton.

Di tahun berikutnya merosot drastis menjadi 17,08 ton. “Produksi kembali turun di tahun 2018 dan 2019, masing-masing sebanyak 14,08 ton dan 13,86 ton,” ungkapnya.

Sedangkan di Kecamatan Kalasan, produksi padi sepanjang tahun 2016 sampai 2019 juga mengalami penurunan. Dengan jumlah setiap tahunnya mulai dari 22,11 ton, 19,53 ton, 17,03 ton, dan 16,76 ton. Hal serupa juga terjadi di Kecamatan Prambanan, produksi yang mulanya sebanyak 19,03 ton pada tahun 2016, turun menjadi 17,56 ton di 2017. Dua tahun berikutnya, merosot kembali ke angka 16,56 ton dan 14,3 ton.

Heru menilai, penurunan produksi padi di wilayah Sleman Timur diakibatkan persoalan air dari Selokan Mataram yang tidak mengalir sampai lahan pertanian. Selain permasalahan air, faktor musim juga memberikan pengaruh pada hasil produksi. “Hasil panen juga melihat kondisi cuaca yang tidak menentu,” tandas Heru.

Secara terpisah, Ketua Forum Petani Kalasan Janu Riyanto mengaku, setelah ditutup pintu flushing Grojogan dan pipa di Onggomertan, para petani sudah bisa menikmati air di Selokan Mataram. “Kami harap, selalu ada pengamatan lapangan yang dilakukan oleh pihak terkait. Agar aliran air Selokan Mataram bisa sampai ke hilir,” imbuhnya. (Aha)

BERITA REKOMENDASI