Puskesmas Mlati I Sleman Gagas Inovasi ‘Tawa Panic’

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Puskesmas Mlati I Sleman membuat sebuah Inovasi yang disebut ‘Tawa Panic’ yakni Tanggap dan Lawan Pandemi Covid-19. Tawa Panic ini menitikberatkan pada tanggap dan lawan, artinya Puskesmas Mlati I dengan sigap mengurangi risiko bencana COVID19 yaitu dengan mensinergikan penguatan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) baik secara fisik maupun penyiapan sumber daya manusia.

Kepala Puskesmas Mlati I dr Ernawati mengatakan kegiatan diawali dengan penyiapan SDM, sarana dan prasarana. Penyiapan SDM dilakukan dengan pengaturan tugas, bimbingan teknis terkait layanan kesehatan dan Pencegahan Penyakit Infeksi (PPI), serta penyiapan mental bagi karyawan.

“Selain itu kami juga berupaya merubah perilaku dan kebiasaan petugas maupun pasien untuk taat pada protokol kesehatan. Dengan perpaduan antara kekuatan UKP dan UKM, diharapkan dapat meminimalisir penyebaran Covid-19,” jelasnya di Pusksemas Mlati I, Senin (29/06/2020).

Pada area UKP kegiatan meliputi pemisahan pasien panas, batuk, pilek, dan sesak napas, perubahan alur layanan, penguatan PPI (Pencegahan Penyakit Infeksi) serta pengelolaan limbah medis. Sedangan UKM pihak Puskesmas Mlati melakukan edukasi secara intensif kepada masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk taat pada protokol kesehatan, serta penguatan surveilan, guna memutus rantai penularan Covid-19.

“Dengan inovasi ini kami berharap dapart memutus mata rantai dan meminimalisir penyebaran virus Covid-19 sehingga pandemi ini. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk taat berperilaku hidup bersih dan sehat serta menguatkan mental petugas kesehatan dalam mengatasi Covid-19,” jelasnya.

Menurut Ernawati tantangan yang selama ini dihadapi petugas medis yakni petugas puskesmas langsung berhubungan dengan pasien dan masyarakat, maka risiko terbesar adalah kemungkinan tertular penyakit. Oleh karena itu APD dan sistem pencegahan penyakit infeksi harus diperkuat dan harus memenuhi standart.

“Tingginya stigma masyarakat terhadap seseorang yang terkait dengan kasus COVID19, maka tenaga kesehatan dituntut untuk mampu memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menghilangkan stigma. Merubah perilaku masyarakat bukan hal yang mudah, perlu edukasi secara intensif dan berulang-ulang. (*)

BERITA REKOMENDASI