Ra’Nggagas Solidarity, ‘Kriwikan Dadi Grojokan’

Editor: Ivan Aditya

SEBUAH komunitas digagas dan didirikan tentu memiliki tujuan. Selain untuk eksistensi diri, tentu juga agar dikenal masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat positif. Dikenal masyarakat karena terbukti telah memberikan manfaat bagi banyak orang tentu patut disyukuri, setidaknya karena keberadaannya memberi manfaat bagi sesama.

Konsep dasar itulah yang diyakini akomunitas Ra’Nggagas Yogyakarta yang dikomandani Totok Agus (48) yang akrab disapa Gogon. Selama 16 tahun, Ra’Nggagas Solidarity berkecimpung dalam urusan sosial kemanusiaan. Bermula dari 5-6 orang di kawasan Blimbingsari pada tahun 2005 sering nongkrong bareng, Perkembangannya banyak yang bergabung, kemudian menggagas kegiatan-kegiatan positif.

Totok Agus mengumpamakan komunitasnya dengan istilah ‘kriwikan dadi grojokan, yakni bermula dari pemikiran-pemikiran sederhana kemudian berkembang menjadi kemaslahatan umat. Saat ini Ra’Nggagas Sokidarity bermarkas di Kalasan Sleman, dengan jumlah anggota tak kurang 1.200 orang yang berada di 9 koordinator wilayah (korwil).

Korwil 01 (Ketua Si Is), Korwil 02 Selatan (Ketua Penyo), Korwil 02 Utara (Ketua Tyok), Korwil 03 Selatan (Ketua Oig), Korwil 03 Utara (Ketua Yuda), Korwil 03 West Krasak (Ketua Londo), Korwil 04 Utara (Ketua Penjol), Korwil 04 Selatan (Ketua Miyus), Korwil 05 (Ketua Sapto), Korwil 06 (Ketua Uut), Korwil 07 (Ketua Cepy), dan Korwil 08 (Ketua Kenceng). Para koordinator wilayah, setiap satu bulan sekali berkumpul untuk menggagas renca kegiatan dan mengevaluasi kegiatan yang telah direalisasi.

Totok Agus menyampaikan agar komunitasnya bisa tertata, dilengkapi dengan Pembina: Udi Budi, Ucok Simbolon, Ervin, dan Iwan. Sedangkan Madani SH dan Sindung Prajaka SH, bertindak sebagai Penasihat Hukum.

“Kami tidak berniat gagah-gagahan, melainkan demi tertibnya komunitas agar tidak ‘liar’ dalam menjalankan aktivitas,” jelas Totok Agus, Selasa (07/09/2021).

Setiap anggota Ra’Nggagas tidak boleh berjalan sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi dengan pengurus. Setiap kegiatan harus sepengetahuan dan sepertujuan pengurus.

Dalam perjalanannya, Ra’Nggagas Solidarity fokus pada kegiatan sosial dan kemanusiaan. Semisal pada masa pandemi Covid-19, bakti sosial (baksos) berupa pembagian sembako rutin dilakukan di sejumlah tempat.

Tak hanya di wilayah DIY, baksos juga dilakukan di daerah Muntilan (Magelang, Jateng). Perihal dana untuk menopang kegiatan, Totok Agus menyampaikan berasal dari iuran sukarela anggota dan donatur yang tidak mengikat.

Selain bakti sosial berupa pembagian sembako, Ra’Nggagas Solidarity rutin memberikan bantuan air bersih di beberapa wilayah di Kabupaten Gunungkidul. Bantuan air bersih menjadi prioritas setiap tahun pada musim kemarau, baik atas permintaan dari wilayah setempat maupun atas inisiatif anggota Ra’Nggagas Solidariy. Sesekali waktu, di sela-sela penyaluran air bersih juga dilakukan pembagian sembako kepada warga.

Dengan jumlah anggota yang terbilang lumayan banyak dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari wirausaha, pegawai negeri, hingga pedagang, Ra’Nggagas Solidarity berusaha turut merasakan apa yang sedang dialami masyarakat. Hal yang terpenting dalam diri Ra’Nggagas adalah kemandirian dalam berorganisasi sekaligus pendanaan.

Ra’Nggagas Solidarity tidak berafiliasi dengan partai politik (parpol) tertentu maupun dengan sosok personal yang menempatkan diri sebagai ‘bos’. Konsep yang diterapkan adalah paguyuban dan kebersamaan, dengan harapan keberadaan Ra’Nggagas bisa memberikan manfaat kepada masyarakat.

Apapun bentuk kegiatannya, tujuannya semata-mata memberikan yang berarti bagi masyarakat. Tidak ada niatan untuk golek alem, apalagi menyimpan agenda terselubung dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan.

Totok Agus menegaskan, komunitasnya juga terbuka untuk dikritik seandainya dirasa ada hal-hal yang merugikan masyarakat. Selain itu, komunitasnya juga terbuka untuk menerima masukan dari pihak manapun demi lebih tertatanya berbagai kegiatan yang dilakukan.

Ketika disinggung perihal pemilihan nama Ra’Nggagas Solidarity yang terkesan ‘cuek bebek’, Totok Agus menjelaskan makna Ra’Nggagas Solidarity adalah tidak mau mencampuri urusan orang/pihak lain. Bagi Totok Agus, yang terpenting jalan dengan konsep masing-masing dan tidak saling mengganggu.

“Jadi makna Ra’Nggagas adalah tidak memikirkan apa yang dilakukan orang lain, yang penting kita melakukan kegiatan positif,” tandas Totok Agus.

Intinya, Ra’Nggagas Solidarity konsen pada kegiatan komunitas secara internal dan tidak mau mencampuri urusan pihak lain. (Haryadi)

BERITA REKOMENDASI