Rasyid Suarakan Pikiran Lewat Lukisan

PEMUDA berjaket hitam terus menggoreskan warna pada gambarnya. Posisinya memang tak senyaman peserta lain yang menggunakan kursi empuk dan meja sebagai alas. Ia hanya duduk dikarpet dan beralaskan buku gambar tebal yang dibawanya dari rumah. Alasannya sederhana, karena sudah tak ada tempat yang tersisa.

Tangannya terus menari, bahkan hingga kertas yang tadinya putih itu kini telah penuh dengan warna. Mendahului peserta lain, nyaris setengah jam sebelum perlombaan selesai dan gambarnya sudah siap dikumpulkan.

"Perlombaan menggambar ada kalanya mematikan kreativitas, ketika seseorang dibatasi untuk menggunakan alat  dan teknik dirinya sendiri, dan itu hampir terjadi hari ini," bebernya. Namun ia merasa lega, tatkala akhirnya diperbolehkan untuk menggunakan peralatan yang ia bawa sendiri dan dicampur dengan peralatan yang telah disediakan.

Hobi menggambar, hobi yang ia jaga dari usia taman kanak-kanak, membawanya mengikuti berbagai perlombaan. Termasuk Lomba Menggambar Wonder Ink yang diadakan di Atrium Jogja City Mall (08/09/2018), dan mengusung tema Jogja Istimewa. 

Perlombaan adalah obat jenuh baginya, sama seperti saat ini ketika ia langsung mendaftar di hari pelaksanaan lomba. Tanpa persiapan, bahkan ide pun baru didapatkannya secara spontan saat kertas dibagikan.

Rasyid Maulana (18), mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta jurusan seni rupa. Disaat yang lain sibuk menggambar tugu dan kebudayaan Jogja, ia malah menggambar sosok ibu dan anaknya. 

"Tugu terlalu monoton, aku ingin mengambil suatu yang beda dimana hal itu bisa menyuarakan apa yang selama ini telah bungkam," ujarnya setelah menyerahkan hasil gambarnya pada panitia. Tak hanya berisi gambar saja, adapula beberapa kalimat yang menjadi pelengkap hasil gambar itu. 

Ada dua kalimat besar yang berbunyi Jogja Merdeka [Katanya] dan dibawahnya disambung kalimat Sugeng Rawuh Ing Ngayogyakarta Dimana Egoitas Kelompok yang Paling Dijunjung. 

Dengan dua kalimat itu, Rasyid hanya ingin menyuarakan bahwa zaman ini sudah banyak berubah, dimana pola pikir masyarakat juga ikut berubah. Figur orang tua dan anaknya menjadi pesan agar orang tua selalu menjaga dan mengarahkan anaknya pada hal-hal yang menuju jalan kebaikan. (Brigitta Adelia)

BERITA REKOMENDASI