Relawan Wajib Bisa Dirikan Tenda Pengungsian

SLEMAN (KRjogja.com) –  Kabupaten Sleman merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan potensi bencana cukup tinggi. Mulai dari erupsi Gunung Merapi, gempa bumi, banjir lahar hujan hingga tanah longsor. Dibutuhkan kesiapsiagaan semua pihak sebagai wujud mitigasi bencana.
 

Hal ini lantas memunculkan banyaknya komunitas relawan. Mulai tingkat dusun hingga desa. Hanya saja, belum semua relawan memiliki kemampuan untuk mitigasi bencana. Salah satunya dalam mendirikan tenda pengungsian. Padahal tenda tersebut termasuk yang dibutuhkan jika terjadi bencana. Terutama saat tempat pengungsian di sekitar lokasi sudah penuh. Maka tenda menjadi hal yang diperlukan.
 
Faham dengan kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mengadakan lomba pendirian tenda pengungsi antar komunitas relawan penanggulangan bencana. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu (3-4/9) ini diikuti puluhan komunitas relawan di Kabupaten Sleman.
 
Dibutuhkan ketrampilan dan kekompakan antar tim untuk bisa mendirikan tenda dengan lebar 6 meter, panjang 12 meter dan tinggi 3,75 meter tersebut. Masing-masing tim yang beranggotakan 10 orang diberi waktu maksimal 40 menit.
 
“Tenda ini diperuntukkan bagi pengungsi saat terjadi bencana. Untuk itu tiang penyangganya tidak boleh patah karena bisa roboh. Ketrampilan sangat dibutuhkan untuk bisa mendirikan tenda ini,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman disela-sela perlombaan di Lapangan Denggung, Minggu (04/09/2016).

Dijelaskan Makwan, tenda pengungsian merupakan hal yang harus cepat ada saat terjadi bencana. Karena selain sebagai tempat perlindungan sementara, juga dapat menyimpan kebutuhan logistik lainnya. Untuk itu, selain mendirikan. Relawan juga harus bisa melipatnya kembali. Karena tenda ini harus bisa digunakan sewaktu-waktu ketika ada bencana dan harus dalam kondisi siap pakai. “Jadi cara melipatnya juga harus tepat,” tegasnya.
 
Tenda ini dapat untuk menampung bencana apa saja. Mulai dari erupsi gunung, banjir hingga gempa. Tergantung lokasi masing-masing daerah. Selain itu tendanya juga bisa. 
 
Harapannya, saat terjadi bencana sungguhan relawan dapat bergerak cepat. Tidak harus menunggu petugas dari BPBD untuk mendirikan tenda. Karena masyarakat bisa menyediakan kebutuhan pengungsi secara cepat dan tepat. Di Kabupaten Sleman sendiri, ada enam tenda pengungsi dalam kondisi siap pakai.
 
Bambang Suharjo selaku tim juri dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, penting bagi setiap relawan untuk dapat mendirikan tenda pengungsi. Karena saat ada bencana, tidak mungkin hanya mengandalkan petugas dari BPBD maupun BNPB saja.
 
“Harapannya setiap relawan di Indonesia tentunya memiliki kemampuan untuk mitigasi bencana. Salah satunya mendirikan tenda. Karena logistik dari BNPB sudah maksimal. Sayang jika justru di level bawah tidak dapat menggunakannya dengan baik,” katanya.
 
Salah satu peserta lomba, Clara Deo mengaku fisiknya cukup terkuras saat mencoba mendirikan tenda. Selain bentuknya yang besar, cuaca di lokasi juga sangat panas. Namun baginya itulah tantangan. Karena saat ada bencana sungguhan, tentunya kondisinya jauh berbeda. “Kalau ditanya susahnya dimana, lebih ke kekompakan tim saja. Karena tenda ini diperuntukkan untuk pengungsian, sehingga tidak bisa asal saat mendirikannya. Ini juga menjadi pengalam baru,” ujar mahasiswa yang sudah berulang kali terlibat dalam proses evakuasi bencana ini. (Awh)

BERITA REKOMENDASI