RRI Fokus Garap Pendengar Milenial

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Radio Republik Indonesia (RRI) saat ini fokus menggarap pendengar radio dari kalangan milenial. Namun demikian, RRI tidak akan begitu saja meninggalnya pendengar terestrial yaitu mereka yang sudah sekian lama setia mendengarkan siaran yang dipancarkan satelit.

“Sekarang RRI ini mampu terbang jauh mengikuti perkembangan teknologi digital. Memang ini cita-cita kami ke depan sejak lima tahun lalu ketika saya menjadi Direktur Teknologi dan Media Baru. Pada dua tahun lalu kami resmikan RRI yang mengarah ke multiplatform,” ujar Direktur Utama (Dirut) Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI, M Rohanuddin, Selasa (18/02/2020).

Kedepan menurutnya RRI tidak bisa hanya bermain di radio saja, melainkan harus mengikuti perkembangan teknologi digital. Apalagi sekarang ini kalangan milenial sudah bermain di digitalisasi.

Berdasarkan hasil survei Indo Survey and Strategy, dari total 75 juta pendengar radio (terestrial) di Indonesia, lebih dari separonya atau 45 juta merupakan pendengar RRI. “Itu survai dari terrestrial, tetapi survei digital juga lebih akurat sebenarnya karena langsung dapat kita lihat di google maupun Alexa. Ini benar-benar menakjubkan,” ungkapnya.

Rohanuddin menambahkan, berdasarkan rangking Alexa sekitar tiga tahun lalu RRI masih menempati rangking 9.000, diluar dugaan sekarang ini rangkingnya naik ke urutan 900. “Karena RRI bekerja dalam konteks digitalisasi. Kami memiliki RRI Play Go, sebuah aplikasi yang di dalamnya berisi RRI 30 Detik, dan streaming dari 190 stasiun RRI di di Indonesia. Saya tidak menyangka RRI Play Go sangat menakjubkan rangking kunjungan untuk menikmati siaran digital. Sekitar dua tahun lalu kami juga membangun RRI Net TV yaitu televisinya RRI,” katanya.

RRI Net TV ini bukan hanya dipancarkan ke smartphone lewat RRI Play Go tetapi juga oleh dua agregator seperti Usee TV milik PT Telkom Indonesia yang pelanggannya ada sekitar hampir 10 juta maupun ninmedia atau layanan televisi satelit yang punya pelanggan terestial lebih dari 20 juta. Dari hasil survai Nielsen pada tahun 2017/2018, RRI menempati rangking pertama dalam konteks pengumpulan pendengar di seluruh Indonesia.

Selain memiliki banyak pendengar, satu lagi kelebihan RRI adalah programnya lebih lengkap. Sebut saja Program 4 khusus untuk siaran budaya, Programa 3 berisi spesial news networking di seluruh Indonesia, Programa 2 khusus untuk anak-anak milenial maupun Programa 1 khusus lokal konten atau all about city.

“Bahkan RRI punya Channel 5 layanan khusus untuk just music. Hanya ditampilkan musik tetapi berkarakter untuk masuk ke publik. Jadi, pantas pendengar RRI itu sangat besar. Saya terus berusaha mengajak semua teman-teman RRI agar konten yang dibangun oleh RRI itu harus menyertai kualitas teknologi. Itu yang terus kami bangun,” tandasnya.

Memang, butuh anggaran besar untuk menggarap digitalisasi. Setiap tahunnya LPP RRI memperoleh anggaran dari pemerintah sebesar Rp 1 triliun. Rohanuddin mengakui anggaran itu memang sangat besar jumlahnya walaupun sebenarnya untuk gaji karyawan saja sebesar Rp 650 miliar.

Dia bersyukur pemanfaatan dan pertanggungjawaban anggaran sangat bagus bahkan untuk pertama kalinya LPP RRI mendapatkan opini laporan keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI sepanjang 10 tahun terakhir. Menjawab pertanyaan mengenai kesiapan sumber daya manusia (SDM), Rohanuddin menjelaskan satu-satunya cara hanya lewat pendidikan. “RRI itu punya pegawai negeri sekitar 3.000-an orang. Pada tahun 2021 paling tinggal hanya 1.000 orang,” kata dia.

Sedangkan pegawai bukan PNS atau PBPNS ada sekitar 2.500 orang yang terdiri dari anak-anak muda. Penggabungan antara PNS yang punya banyak ilmu dengan anak-anak muda yang kreatif diharapkan akan terbentuk inovasi baru untuk mereka bekerja penuh semangat. (*)

BERITA TERKAIT