Sadar Bencana, Warga Kinahrejo Junjung Kearifan Lokal

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRjogja.com – Erupsi Gunung Merapi yang terjadi tadi pagi berlangsung dengan diam, tanpa tanda-tanda apapun. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Gunung Merapi kali ini tidak ingin menunjukkan bakal memuntahkan isi perutnya.

Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Eko Sulistyawan menceritakan, dirinya yang bertempat tinggal di Jalan Kaliurang Km 14,5, beberapa menit sebelum Merapi erupsi mendengar suara layaknya truk menyala di dekat rumahnya. Ternyata, gunung yang diam sejak 2010 lalu itu bakal menyemburkan isi perutnya keluar. Setelah itu, sebagai anggota TRC BPBD DIY, ia pun langsung berkoordinasi dengan Polisi Kehutanan DIY dan warg setempat terkait evakuasi.

"Warga sini itu sudah sadar kalau mereka tinggal di daerah bencana. Jadi, responnya juga cepat ketika ada yang bilang Merapi erupsi," paparnya ketika dijumpai KRjogja.com di daerah Kinahrejo, sebelum Petilasan Mbah Maridjan, Jumat (11/5/2018). Eko menjelaskan, kearifan lokal yang membuat suasana diatas tidak terkesan panik dan kehilangan arah. Semua warga memegang prinsip 'eling lan waspada', yang berarti mereka selalu mengingat dan memahami Gunung Merapi bisa meletus kapan saja.

"Kearifan lokal, yang meredakan kepanikan ya mereka-mereka ini. Mereka menginformasi satu sama lain, pelan-pelan turun ke bawah dan mengevakuasi diri. Mereka paham, daerah tempat tinggalnya itu di Kawasan Rawan Bencana (KRB)," tuturnya. Eko menilai, koordinasi di akar rumput, terkait bencana juga solid dan tidak sendiri-sendiri. Dengan begitu, korban jiwa bisa diminimalisasi, bahkan ditiadakan.

"Kawasan Agro Wisata Kinahrejo ini juga tidak kami tutup banget. Kalau yang kami kenal dan dia warga setempat, silahkan naik tidak apa karena mereka memahami batasan aman tidak amannya. Kecuali, kalau ada yang tidak kenal, bisa bertemu kami dulu, ngobrol apa tujuannya naik ke atas. Jalanan diatas licin karena pasir dan berbatu, perlu keamanan lebih," tandasnya. (M-1)

Suasana simpang tiga sebelum Petilasan Mbah Maridjan kosong, tiada aktivitas wisata. (Foto: Ardhike Indah)

 

BERITA REKOMENDASI