Sampah Sleman Dikelola Hulu-Hilir, Iuran Warga Bisa Gratis

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Jumlah produksi sampah di wilayah Kabupaten Sleman terus mengalami peningkatan. Volume sampah harian yang dihasilkan dari berbagai kegiatan industri dan rumah tangga menurut data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman tahun 2019 lalu mencapai 800 ton perhari.

Sayangnya, hingga kini Sleman masih belum memiliki peta jalan pengelolaan sampah yang memadai. Hal ini menjadi perhatian Calon Bupati Sleman nomor urut 1, Danang Wicaksana Sulistya (DWS) yang mendatangi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) GIAAAAAT di Dusun Bawuk, Minomartani, Ngaglik, Sleman beberapa hari lalu.

DWS secara langsung berbincang dengan Pengelola TPS, Danang Arif dan mendapat penjelasan latarbelakang berdirinya TPS tersebut. Pada tahun 2012 TPS mulai berdiri di atas lahan kas Desa Minomartani seluas 1000 meter dan dibiayai oleh dana bantuan dari pemerintah pusat.

TPS tersebut kini mengelola sampah untuk 300 rumah di Dusun Bawuk dan sekitarnya. Warga dikenakan tarif Rp 25 ribu dan Rp 50 ribu setiap bulan sebagai ganti jasa pengambilan sampah.

TPS GIAAAAAT sendiri mengelola sampah dengan cukup menarik mulai pemisahan sampah plastik dan sisa makanan untuk dijual pada pengepul serta diolah sebagai kompos. Sisa yang tak bisa dipakai baru disetorkan ke TPA Piyungan.

Melihat kondisi tersebut, DWS melempar apresiasi pada TPS GIAAAAAT yang bahkan bisa memberikan upah antara Rp600 ribu sampai Rp700 ribu pada 6 orang pekerja juga menyetor uang sebesar Rp400 ribu untuk kas dusun. DWS menyatakan dirinya akan mempelajari lebih lanjut dan berharap dapat memecahkan persoalan sampah di Sleman karena bisa menjadi bom waktu.

“Strateginya, harus ada desentralisasi dan upaya bersama karena persoalan sampah ini tidak populer pada hajatan pilkada, namun saya concern dan merasa ini akan jadi bom waktu jika tidak ditangani dengan serius,” ungkap DWS ketika berbincang, Sabtu (27/11/2020).

BERITA REKOMENDASI