Sedulur Jomblang, Wadah Kangen-kangenan Warga

Editor: Ivan Aditya

TIDAK ada manusia yang bisa hidup sendiri di dunia. Setiap manusia pasti membutuhkan bantuan dari orang lain, meski sekecil apapun itu. Sebagai makhluk sosial, setiap manusia saling hormat-menghormati, harga-menghargai dan tolong-menolong satu sama lain atau saling berinteraksi. Itu semua agar manusia dapat hidup denga aman, nyaman dan tenteram.

Berdasar itulah maka dibentuklah Komunitas Sedulur Jomblang, sebagai salah satu komunitas sosial kemasyarakatan yang merupakan wadah untuk kepedulian dan membantu anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya. “Paling tidak bisa memberikan manfaat pada masyarakat, terutama warga dusun Gamplong, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman. Baik yang saat ini masih di kampung halaman, maupun yang ada di wilayah Nusantara,” ujar Ketua Komunitas ‘Sedulur Jomblang’ Heri Supriyanta, Selasa (15/09/2020) di rumahnya.

Menurut Heri Supriyanta, mengambil nama ‘Jomblang’ adalah ikon sebuah nama pasar desa di Gamplong, yang dulu merupakan tempat berkumpul, bercanda ria maupun ‘nongkrong’ sambil duduk santai ketika warga masih berada di rumah. Kini jumlah anggota yang hampir 130 orang itu tersebar di seluruh wilayah Nusantara, karena harus bekerja, ikut suami atau isteri, berdagang atau sebab lain. Ada yang di Sorong, Jambi, Balikpapan, Samarinda, Lampung, Riau, Jakarta, Surabaya, Malang, Semarang, Karawang, Bandung, Yogyakarta dan sebagainya.

“Boleh juga komunitas ‘Sedulur Jomblang’ bisa sebagai ajang kangen-kangenan warga, baik ketika bisa pulang kampung atau cukup melalui media sosial Whatshap (WA) seperti saat pandemi Covid-19 ini,” tambah Heri Supriyanta. Komunitas ‘Sedulur Jomblang’ berdiri 7 Januari 2018, dengan tempat kedudukan atau alamat sekretariat di Dusun Gamplong, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, dan sebagai Sekretaris adalah Sadar Wijayanta.

Kegiatannya bagi yang masih domisili di kampung halaman, setiap saat mengadakan kegiatan sosial, seperti ‘reresik’ pasar sebagai ikon atau pusat berkumpul anggota. Juga kerja bakti tempat ibadah, serta bakti sosial kepada anggota yang membutuhkan. Setiap tahun sekali, biasanya bersamaan dengan libur Hari Lebaran atau Idul Fitri berkumpul bersama saling silaturahmi sambil kangen-kangenan satu sama lain, terutama yang berada di rantauan.

Sedangkan program ‘Sedulur Jomblang’ yang telah disepakati pengurus di antaranya, akan membentuk sanggar budaya (tari, jemparingan dan bregada rakyat). Pemberdayaan ekonomi dengan budidaya lele, baik anggota maupun masyarakat umum. Kecuali itu juga memberikan pendampingan atau advokasi bidang kesehatan dan pendidikan, bagi masyarakat. “Khusus untuk masa pandemi ini kami membantu anggota dan masyarakat yang terdampak terutama pekerja atau karyawan yang dirumahkan,” tambah Heri Supriyanta.

Banyak positif

Terpisah, salah seorang anggota Bintara Malis Rujito mengatakan, keberadaan komunitas ‘Sedulur Jomblang’ sangat bermanfaat baik untuk anggota sendiri atau masyarakat umum. Yang tadinya belum kenal, ketika ketemu di luar kota akhirnya menjadi akrab dan saling menolong ketika tahu sama-sama anggota ‘Sedulur Jomblang’.

Juga ketika ada salah seorang anggota yang mengalami musibah, dengan cepat melalui komunikasi WA saling bantu-membantu meringankan beban penderitaannya. Demikian juga ketika bepergian di luar kota kesasar, berkat bantuan sesama anggota akhirnya bisa sampai dengan selamat. “Pokoknya kegiatan sosial yang banyak positifnya, dan perlu dilestarikan,” tambah Bintoro Malis Rujito.

Sedangkan Fajar yang kini berdomisili di Sorong, Papua, dengan mengikuti perkembangan lewat WA grup tahu perkembangan yang ada di desa asal. Sangat cocok untuk saling bertukar informasi, perkembangan daerah. Untuk itu komunitas ini perlu dipertahankan sebagai ‘paseduluran sa lawase’, untuk menjalin persatuan dan kesatuan antarwarga Gamplong. (Sutopo Sgh)

BERITA REKOMENDASI