Sidang Kasus Nilai Palsu Ijazah YIS Kembali Ditunda

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sleman kembali menunda persidangan perkara pemalsuan keterangan pada akta otentik dengan terdakwa Bendahara Yogyakarta Independent School (YIS) Supriyanto, Kamis (12/08/2021). Penundaan ini dilakukan lantaran terdakwa tengah menjalani masa isolasi di LP Cebongan dan tak bisa dihadirkan dalam persidangan meskipun secara daring.

Penundaan ini sudah kedua kalinya dilakukan setelah sebelumnya, Senin (09/087/2021) sidang dengan agenda pembacaan replik dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga urung dilaksanakan. “Karena sidang tidak dihadiri terdakwa maka persidangan ditunda Senin 23 Agustus yang akan datang,” tegas Ketua Majelis Hakim, Adhi Satrija Nugroho SH.

Mendengar penundaan ini kuasa hukum terdakwa, Odie Hudiyanto SH mengaku sangat kecewa. Namun demikian ia tetap menghormati proses hukum yang saat ini harus dilalui kliennya dan berharap pada sidang selanjutnya tidak ada penundaan lagi.

“Kami ikuti dengan hukum acara, kami tidak mau melanggar. Kalau melanggar, terdakwa tak bisa hadir baik sengaja atau tidak sengaja maka proses sidangnya menjadi cacat,” tegas Odie Hudiyanto ditemui usai persidangan.

Ia meminta setelah mendengar jawaban dari jaksa maka majelis hakim dapat segera memutus dalam putusan selanya. Itu sangat penting menurut Odie Hudiyanto, agar bagi kliennya dapat segera mendapatkan kepastian hukum.

Pada sidang sebelumnya dengan agenda eksepsi, Supriyanto melalui kuasa hukumnya menilai surat dakwaan jaksa tidak jelas atau kabur. Pasal 266 ayat 1 KUHP tentang tentang memalsukan keterangan pada akta otentik tidak dapat didakwakan terhadap Supriyanto karena ijazah atau nilai yang ada adalah asli dan terdaftar sesuai SE Kemendikbud.

Ia mengatakan sebagai bendahara sekolah terdakwa tidak punya kewenangan untuk menyuruh staf atau guru. Selain itu mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan diajarkan secara terintegrasi dengan mata pelajaran lainnya.

Sedangkan dalam dakwaan, Jaksa Siti Murharjanti menyebut terdakwa dengan sengaja telah memalsukan nilai dalam ijazah salah seorang siswi bernama Adl, anak dari Erika Handriati sebagai pelapor. Jaksa menganggap terdakwa bertanggungjawab atas munculnya nilai 75 pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, padahal dua mata pelajaran itu tidak diajarkan di sekolah bertaraf internasional tersebut. (Van)

BERITA REKOMENDASI