Sinergi BUMN Jadi Solusi dan Kunci Utama

SLEMAN (KRjogja.com) – Sinergi dan holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan solusi menjawab kendala permodalan dan kunci utama menghadapi persaingan global, khususnya menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah berlaku sejak awal 2016. Selain itu, perlu memerlukan kerjasama dan koordinasi internal auditor dengan manajemen perusahaan terutama dalam mengelola keuangan atau permodalan.

Hal ini disampaikan Inspektur IV Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI, Bambang Karuliawasto mewakili Menteri Keuangan RI dalam pembukaan Konferensi Nasional I Forum Komunikasi Satuan Pengawasan Intern (FKSPI) di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Kamis (17/11/2016). Berdasarkan data Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Semester I 2016, sebanyak 25 BUMN terbesar memiliki 93 persen dari total aset seluruh BUMN dan menyumbang 91 persen dari total pendapatan seluruh BUMN yang berjumlah total 118 perusahaan.

"Pembentukan holding BUMN diharapkan dapat memdongkrak pertumbuhan ekonomi nasional dan mendorong peningkatan 'capital expenditure' secara signifikan guna membiaya kebutuhan infrastruktur yang sangat besar. Namun menggabungkan sejumlah BUMN yang sebelumnya beroperasi xsendiri-sendiri tentu pekerjaan yang tidak mudah, terdapat tantangan yang harus dihadapi agar proses holding berjalan sukses," ujar Bambang.

Bambang mengatakan proses pembentukan holding ini harus memperhatikan aspek proses politik, kinerja finasial perusahaan, corporate culture dan sosial ekonomi. Rencana pembentukan holding harus bisa membuat BUMN lebih profesional dan transparan dimana perusahan yang menjadi induk BUMN harus sehat. Salah satu kunci keberhasilan tata kelola perusahaan yang baik adalah penerapan sistem pengendalian intern yang efektif.

"Perusahaan perlu meningkatkan fungsi pengawasan internal dengan mengoptimalkan peram Satuan Pengawasan Internal (SPI) yang akan berperan besar dalam holding BUMN. SPI melakukan assurance dan memberikan konsultasi atas penerapan tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan dan pengendalian internal," imbuhnya.

SPI dituntut berperan untuk memastikan BUMN berkinrja optimal dalam memenangi persaingan dalam era pasar bebas. Peran tersebut dapat dicapai apabila SPI senantiasa mengembangkan kapasitas dan kapabilitas serta mengikuti dinamika bisnis dan ekonomi kawasan maupun dunia.

Ketua FKSPI Pusat, Syaiful Huda menyampaikan ada beberapa BUMN yang sudah melakukan holding seperti semen, pupuk dan lain-lain, maka yang perlu disoroti aspek pengelolaan bisnisnya. Aspek pengawasan sendiri sudah ada tim khusus untuk mengawasi seluruh BUMN maupun anak peruasahan BUMN yang ada di tanah air. (Ira)

BERITA REKOMENDASI