Siswa MTs YAPI Pakem Diundang ke Swedia, Apa yang Dilakukannya?

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRJOGJA.COM) – Siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah, Yayasan Pembangunan Islam (MTs Yapi) Pakem Sleman, Monica (15) mendapat undangan menyampaikan pidato dalam forum kampanye antikekerasan pada anak atau 'End Violence Agiants Children, Solution Summit 2018' di Stockholm, Swedia 14-15 Februari 2018 mendatang. 
Pemerintah Swedia bekerjasama The Global Partnership to End Violence Againts Children sengaja mengundang anak-anak dari berbagai negara untuk berbagai cerita dan pengalaman tentang kondisi anak-anak di negara masing-masing.

Sebelumnya pada Oktober tahun lalu, Monica diundang WHO untuk berpidato dengan tema yang sama dalam sebuah forum internasional di Ottawa Kanada. Kepala MTs Yapi Pakem, Suharijanto Pribadi MSc mengatakan, pihak sekolah mendorong dan mendukung penuh Monica. Menurutnya, kampanye antikekerasan pada anak sangat penting untuk menumbuhkkan kesadaran dan kepedulian berbagai pihak (dalam/luar negeri) agar melindungi anak. 

"Sebelum berangkat, pihak sekolah terus menyiapkan Monica dengan banyak berdiskusi dengan OSIS maupun guru," terang Suharijanto kepada KRjogja.com usai silaturahmi dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag DIY) Drs Muhammad Lutfi MAg di kantornya, Selasa (6/2).

Lutfi bersyukur dan berterima kasih ada siswa madrasah yang terpilih menyuarakan antikekerasan pada anak di forum internasional. Kesempatan emas ini sekaligus momentum untuk mengenalkan madrasah kepada dunia sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam yang unik, ramah anak dan membangun karakter siswa yang tangguh. "Pola sikap dan berpikir Monica bisa terbentuk karena lingkungan/komunitas madrasah yang nyaman, islami dan ramah anak," katanya.

Suharijanto menambahkan, sebelumnya, Monica pernah mengikuti lomba essai penulisan tentang antikekerasan pada anak. Tulisannya lolos tiga besar yang mengantarkannya berangkat ke Kanada. Selama di Sleman, Monica menjadi anak asuh Yayasan 'Hamba', sementara ibunya berada di Jakarta sebagai penjual kopi keliling. Monica bertemu ibunya setahun sekali saat menjenguk ke panti asuhan. (Dev)

 

BERITA REKOMENDASI