Soal Air Tanah, Warga Belum ‘Merdeka’

SLEMAN (KRjogja.com) – Direktur Amarta Institute for Water Literacy, Nila Ardhianie menilai menjamurnya bangunan hotel dan apartemen di Yogyakarta menyebabkan pasokan air tanah warga berkurang. Padahal air tanah menjadi tumpuan bagi warga Kota Yogyakarta.

"Ketergantungan penduduk terhadap air tanah cukup besar. Ini berbeda dengan kota lain," ungkapnya dalam acara pemutaran film 'Yogya Darurat Air' dan Diskusi 'Kemerdekaan dan Air untuk Warga' di University Club (UC) UGM pada Senin (15/8/2016). 

Dia memaparkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) penggunaan air PDAM di Jakarta dan Surabaya 100% telah menggunakan air permukaan dan sudah dilarang menggunakan air tanah. Data BPS lain mengenai sumber air yang digunakan PDAM menunjukkan tahun 2014, sebesar 38,57% Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) menggunakan air tanah sebagai sumber air. Hal ini kemudian meningkat di tahun 2015 dengan angka 40,11%.

"Penggunaan air tanah terus menerus merupakan kemalasan dari PDAM. Air di permukaan memang harus diolah lagi dan biaya untuk instalasi pengolahan tidak sedikit, namun pemerintah harus mau investasi agar cadangan air warga selalu ada.

Dalam film "Jogja Darurat Air", diceritakan keresahan warga-warga yang mengalami kekurangan air semenjak hotel dan apartemen dibangun di wilayah sekitarnya. Aksi nyata yang dilakukan warga setempat adalah beradegan mandi dan sikat gigi dengan pasir di depan hotel yang menyedot sumber air warga sebagai bentuk protes. Film tersebut juga memaparkan data-data terkait makin berkurangnya air yang seharusnya digunakan oleh warga. (Ardhike Indah)

BERITA REKOMENDASI