Soal HTI, Begini Pernyataan Rektor Baru UGM

SLEMAN, KRJOGJA.com – Rektor baru UGM, Prof Panut Mulyono hadir dalam silaturahmi bersama wartawan di University Club, Senin (5/6/2017) petang. Di hadapan wartawan, Panut kembali menekankan bawasanya UGM sepenuhnya merupakan kampus ber-Pancasila dan menolak paham-paham radikal yang bertentangan dengan ideologi bangsa.

Panut mengungkap, UGM sejak kepemimpinan rektor Dwikorita Karmawati telah berkomitmen untuk menjadi pewujud Pancasila dengan mendeklarasikan diri sebagai kampus Pancasila. Menurut dia, sesuai Tri Dharma perguruan tinggi, kampus harus bisa mengimplementasikan butir lima sila dalam seluruh kegiatannya dan menjadi benteng Pancasila.

"Prinsipnya UGM berusaha agar Pancasila bukan hanya jadi diskusi verbal tapi membumikan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Ada langkah konkrit yang dilakukan di UGM seperti dosen mata kuliah apapun wajib menyampaikan materi terkait Pancasila paling tidak 30 menit saat memberikan kuliah," ungkapnya.

Sementata terkait Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) yang diklaim negara menjadi paham radikal bertolak belakang dengan Pancasila, Panut dengan tegas menyatakan bahwa UGM tak mentolerir hal tersebut. Langkah konkrit telah disiapkan rektorat diantaranya monitoring menyeluruh sejak mahasiswa masuk kampus hingga yang teranyar mengatur pengelolaan masjid kampus.

"Kita tata betul penyelenggaraan kuliah agama Islam. Kita pastikan yang diajarkan pada mahasiswa adalah agama Islam yang kontekstual dan rahmatan lil allamin. Kemarin juga telah diubah mengenai pengelolaan masjid kampus agar tak jadi tempat masuknya paham radikal," ungkapnya lagi.

Di sisi lain, UGM juga bakal terus mengedepankan ekonomi kerakyatan yang selama ini sudah dikembangkan salah satu fakultas di Kampus Biru. Hal tersebut menurut Panut juga penegas bahwa UGM merupakan kampus yang mendasarkan hasil akhir kegiatan perkuliahan berdasar Pancasila. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI