Sultan Tak Ingin Industri Furniture Kalah dengan Vietnam

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Persaingan industri dunia furniture dewasa ini cukup ketat, terutama untuk kawasan Asia Tenggara. Berada di kawasan dekat katulistiwa, negara-negara di Asia Tenggara yang beriklim sub tropis memungkinkan memiliki bahan baku furniture yakni kayu yang melimpah. Jika ingin tetap bersaing, industri furniture Indonesia harus mampu berinovasi serta menciptakan produksi baru yang memiliki nilai kreasi tinggi.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, nilai ekspor furniture tanah air hingga November 2019 mencapai 1,7 miliar Dolar Amerika. Tak heran jika kemudian furniture merupakan satu dari lima sektor yang terus didorong pertumbuhannya oleh pemerintah secara terus menerus.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA)  Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Gati Wibawaningsih menyampaikan dibanding tahun sebelumnya nilai ekspor furniture naik 12,6 persen. "Jadi kalau kita melihat angka ini berarti disitu memperlihatkan pasar dari pada industri furniture ini sangat potensial," kata Gati Wibawaningsih saat meluncurkan Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (Jiffina) ke-5 di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Rabu (15/01/2020).

Kementerian Perindustrian menurutnya sangat mengapresiasi Jiffina yang akan diselenggarakan pada 14 – 17 Maret mendatang. Ia berharap dengan pameran tersebut dapat dijadikan ajang pemasaran produk bagi para pelaku furniture, terlebih lagi dalam pameran tersebut akan mendatangkan buyyer (pembeli) dari 65 negara asing.

Gati Wibawaningsih juga berpesan kepada para pelaku industri untuk hendaknya dapat memproduksi furniture dengan lebih memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup. Hasil produksi diharapkan kedepan tak hanya bermaterikan kayu saja, melainkan dapat dikombinasikan dengan material lainnya.

"Jadi kalau kita lihat desain furniture harus menggunakan kombinasi bahan lain seperti dari logam ataupun plastik daur ulang. Sehingga ini dapat dipakai sebagai tren furniture yang ramah lingkungan," jelasnya.

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X dalam sambutannya menyampaikan Jiffina tahun ini dengan tema 'Serve The World With The Unique Diversity of The Eco Lifestyle' setidaknya perlu menerapkan enam karakteristik produk yang ramah lingkungan. Enam karakteristik tersebut yaitu kayu bersertifikat, mudah dibongkar dan dibawa pulang, tahan lama dan mudah diperbaiki, berbahan logam dan plastik daur ulang, berbahan kayu reklamasi dan produk lama serta menggunakan bahan baku bambu untuk aksesoris perabotan.

Sultan berharap sebanyak mungkin kriteria itu diterapkan pada produk-produk yang dipamerkan dalam Jiffina. "Sebab jika tidak diterapkan saya khawatir kita akan lebih jauh ketinggalan dengan produk serupa dari negara lain seperti Vietnam yang tidak lain kompetitor utama mebel Indonesia," tegasnya.

Gubernur mengatakan dampak ikutan dari Jiffina dapat menjadi penarik Usaha Kecil dan Menengah (UKM)  furnitur di Jawa maupun Bali. Selain itu pameran ini mempunyai multiplier effect terhadap sektor-sektor industri serta jasa-jasa dan lainnya khususnya bagi DIY sebagai tuan rumah penyelenggaraan.

Sementara itu Ketua Forum Jiffina Jawa dan Bali, Timbul Raharjo mengatakan target transaksi dalam pameran ini setidaknya sebesar 80 juta Dolar Amerika. Angka tersebut diharapkan dapat menggenjot nilai ekspor khususnya dari sektor furniture.

"Kami optimis omzet dan buyyer akan meningkat pada pameran Jiffina tahun ini dengan mengikuti perkembangan zaman dan tren global. Kami juga optimis target tersebut dapat tercapai," jelas Timbul. (Van)

BERITA REKOMENDASI