Tak Sekedar Teken MoU, Sekolah Vokasi Indonesia Harus ‘Dinikahkan’ dengan Industri

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Direktorat Jendral Pendidikan Vokasi merancang pengembangan melalui kebijakan link and match dengan dunia industri. Tak ingin sekedar sepakat saja, pemerintah menegaskan akan ‘menikahkan’ sekolah vokasi di Indonesia dengan dunia kerja.

Dirjen Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto mengungkap selama ini kebijakan link and match antara vokasi dengan industri memang sudah ada. Hanya saja ia melihat hal tersebut belum maksimal sehingga kerjasama selesai sebatas tandatangan dalam kertas MoU.

“Link and match ini harus benar-benar sampai menikah, bukan hanya MoU atau kenalan saja. Paket link and match juga minimal ada 5 paket yakni kurikulum yang dibuat bersama dengan industri di mana keterlibatan guru tamu dari Industri minimal 50 jam per semester per prodi. Pengajar harus orang tangguh di lapangan bukan hanya guru saja. Praktik kerja juga dirancang sejak awal, kemudian sertifikat kompetensi yang diakui industri dan dunia kerja. Lalu kelima setelah lulusan kompeten itu pertanyaannya harus aku bisa apa bukan aku sudah bisa apa. Di sini perlu komitmen bagaimana industri menyerap SDM,” ungkap Wikan ketika ditemui di acara Refleksi 30 tahun perjalanan PPPG Kesenian/PPPPTK Seni dan Budaya menuju BBPPMPV Seni dan Budaya, Jumat (14/8/2020) siang.

Tahun 2020 ini, Ditjen Pendidikan Vokasi menyiapkan anggaran Rp 3,5 trilyun untuk memuluskan pernikahan sekolah vokasi dengan industri. Dana tersebut akan didistribusikan ke seluruh Indonesia agar instrumen sekolah vokasi siap memaksimalkan potensi.

“Secara keseluruhan anggaran Ditjen Pendidikan Vokasi tahun ini Rp 6 trilyun, tapi khusus untuk menikahkan ini total ada Rp 3,5 trilyun. Anggaran ini bisa dimaksimalkan seluruh daerah di Indonesia agar kita siap terutama secara SDM,” tandas Wikan.

Sementara secara khusus Wikan juga memberikan tugas pada tujuh BBPPMPV seluruh Indonesia untuk menciptakan sumber daya manusia unggul mengawal sinergi dengan industri. “BBPPMPV Mengembangkan kualitas SDM terutama guru, kepala SMK. Lalu mengembangkan kualitas instruktur untuk kepelatihan. Guru, kepala sekolah bisa siap menikah dengan industri. Fungsinya sebagai mak comblangnya, nggathukke dengan industri terkait,” pungkas mantan dekan Sekolah Vokasi UGM ini. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI