Tawon Ndas Sibukkan Petugas Damkar

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Sleman akhir-akhir ini cukup sibuk. Bukan karena banyaknya kejadian kebakaran, melainkan permintaan evakuasi sarang lebah.

Hal ini dirasakan oleh petugas. Setidaknya dalam 2-3 bulan terakhir dan semakin banyak pada dua pekan kebelakang. Terhitung sudah ada 30an permintaan evakuasi yang sudah ditangani petugas.

Belum banyak orang yang tahu kalau tugas damkar itu sebatas saat ada kebakaran saja, melainkan termasuk penyelamatan. Tidak sebatas manusia namun juga ke binatang, salah satunya evakuasi sarang lebah.

Terakhir petugas mengamankan sarang tawon gung atau yang dalam Bahasa Latin disebut Apis Dorsata dan orang Jawa biasa tawon ndas di dua lokasi sekaligus yakni Kalasan dan Berbah, Rabu (03/01/2018).

Dibutuhkan keahlian khusus untuk mengevakuasi sarang tawon gung itu. Karena ukurannya yang bisa dua kali buah nangka ukuran berat, jika terkena sengatan juga bisa mengancam nyawa.

Pertama yang harus disiapkan adalah keamanan petugas. Pastikan mengenakan pelindung yang menutupi seluruh anggota badan. Selain itu perhatikan waktu, malam hari atau setelah matahari terbenam adalah saat yang tepat untuk evakuasi. Pasalnya saat-saat itu seluruh tawon sudah kembali ke sarang untuk tidur.

Kalau siang atau pagi hari tidak bisa. Sebab jika sarangnya itu di pohon, dahan tempat sarang itu disentuh saja maka lebah-lebahnya akan langsung keluar dari sarang dan itu sangat berbahaya.

"Perhatikan juga sarangnya. Semakin sedikit jumlah lubang semakin mudah untuk evakuasi. Karena sarang lebah itu ibarat sebuah kerajaan, disitu ada rajanya dan di setiap lubang atau pintu pasti ada yang jaga," kata Komandan Regu II Damkar Sleman Indratno kepada KRJOGJA.com, Kamis (04/01/2018).

Begitu ketemu lubangnya, tinggal disumbat menggunakan kapas yang sudah dibasahi dengan bahan bakar. Lalu tunggu sekitar 30-60 menit untuk memastikan semua lebahnya lemas karena menghirup bahan bakar. Setelah itu baru sarangnya ditutup menggunakan karung untuk diambil dan dimusnahkan dengan cara dibakar atau cukup disiram dengan air panas.

Teknik itu menurut Indratno hanya berlaku untuk lokasi yang mudah dijangkau. Paling sulit itu kalau lokasi sarangnya berada di bagian rumah, tepatnya diantara kuda-kuda yang biasa ada di atap rumah. Untuk mengevakuasinya, sarangnya harus dibongkar.

Jika lubangnya lebih dari dua, maka di setiap lubang itu harus dibakar. Jika lebahnya keluar sarang, maka langsung ketemu api dan mati saat itu juga. Atau setidaknya sayapnya terbakar maka otomatis tidak bisa terbang.

Mengenai lokasi tumbuhnya sarang tawon gung relatif tersebar, ada di pohon, bagian rumah hingga tiang antena. Tidak terbatas pedesaan juga karena pihaknya pernah mengevakuasi sarang tawon gung di rumah sakit.

"Perkembangan tawon gung itu sangat cepat. Kalau hari ini baru sebesar bola kasti maka dalam 2-3 pekan sudah semakin besar hingga dua kali lipat ukuran buah nangka. Hal itu pula yang sering membuat masyarakat heran karena tiba-tiba sudah besar. Dalam satu sarang itu bisa mencapai  puluhan ribu ekor," ungkapnya.

Tim Damkar sendiri juga kurang tahu pasti, kenapa akhir-akhir ini banyak sekali pemerintahan evakuasi sarang tawon gung. "Memang pengaruh cuaca atau bagaimana kami juga kurang tahu secara pasti. Namun memang beberapa pekan terakhir ini cukup banyak permintaan dari warga," kata Kepala Bidang Damkar, Ismu Ahmad Widodo.

Ismu menjelaskan tugas petugas damkar memang tidak hanya saat ada kebakaran saja, melainkan termasuk tim penyelamatan. Pernah damkar Sleman mengevakuasi anjing masuk sumur hingga ular di dalam atap rumah.

"Kami sedang berupaya untuk melatih petugas agar terlatih di bidang tertentu. Kalau untuk pemadaman api semuanya harus siap, namun untuk penyelamatan khusus," imbuhnya. (Awh)

BERITA REKOMENDASI