Terdakwa Penipuan dan Penggelapan Bebas Demi Hukum

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Terdakwa kasus penipuan dan penggelapan sertifikat tanah, Soeharso Utomo (68) akhirnya dilepas dan dikeluarkan dari Rutan Cebongan Sleman, Rabu (30/01/2019). Pelepasan dilakukan atas perintah majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sleman usai sidang pembacaan pledoi yang dibacakan penasihat hukumnya Alouvie RM SH didampingi Santo Kusuma Aji SH dan Endipandi O Noenoehitoe SH.

"Dalam sidang pembacaan pledoi kami menyampaikan masa penahanan terdakwa telah habis. Sehingga majelis hakim tak memiliki wewenang untuk melakukan penahanan dan memerintahkan untuk mengeluarkan terdakwa dari tahanan," ujar Alouvie.

Setelah masa  penahanan terdakwa penipuan dan penggelapan sertifikat tanah senilai ratusan juta rupiah habis dan tidak ada masa perpanjangan karena sudah melewati 90 hari. Sesuai ketentuan pasal 26 KUHAP setelah masa penahanan habis maka terdakwa harus dikeluarkan demi hukum.

Padahal sebelumnya dalam pledoi yang dibacakan pada 29 Januari 2019, Alouvie memohon agar majelis hakim  memberikan vonis bebas murni (vrijspraak). Sesuai fakta dipersidangan tidak ada satu bukti pun yang menyatakan terdakwa bersalah melakukan penipuan dan penggelapan sertifikat.

Bahkan saksi Suryono yang melaporkan perkara tersebut memberikan kesaksian tak konsisten dan selalu berubah. Untuk itu dalam pledoi Alouvie menyatakan berdasarkan fakta-fakta dan bukti-bukti dalam persidangan, terdakwa tidak melakukan penipuan atau penggelapan sebagaimana dakwaan jaksa Sugana SH.

Karena faktanya SHM 2355/Wedomartani milik Lasiyem telah dikembalikan terdakwa kepada Suyono pada Juli 2009. Usai diterima Suyono, barang bukti SHM diberikan kepada saksi Tuti Eliati saat penandatanganan Ikatan Jual Beli dan Kuasa Menjual pada 11 Agustus 2009.

Sesuai keterangan ahli pidana, perbuatan terdakwa bukanlah pidana penipuan atau penggelapan, karena unsur-unsur perbuatan tersebut tidak terpenuhi. Sementara dari keterangan ahli perdata terjadi konsensus atau kesepakatan antara Suyono, Lasiyem dan Siti Muslikhah kalau SHM Nomor 2355/Wedomartani yang semula atas nama Ny Mardiharjono alias Lasiyem dijadikan jaminan di Bank Danamon.

Sehingga terdakwa tidak pernah menerima uang atau menikmati pembagian dari pencairan kredit Bank Danamon sebesar Rp 30 juta. Uang tersebut hanya dititipkan dan telah dikembalikan untuk membayar kredit Bank Danamon. Sehingga bila kredit macet bukan menjadi tanggung jawab terdakwa. (Usa)

BERITA REKOMENDASI