Terduga Teroris di Mlati Buka PAUD dan TK Dirumahnya

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri kembali mengamankan seorang terduga teroris, Pon (57) warga Sinduadi Mlati Sleman, Jumat (20/12) siang. Penggeledahan juga dilakukan di rumah Pon sejak pukul 13.00 WIB hingga menjelang Magrib.

Di rumah tersebut, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa charger HT, stik besi,  cairan yang ditemukan dalam sejumlah botol.

“Sempat dengar juga apakah ini bahan kimia atau tidak, akhirnya telepon jibom (penjinak bom). Mungkin itu yang bikin penggeledahan lama,” kata Ketua RW setempat, Nurhidayat (39).

Dari 4 buah paspor yang diamankan, diketahui sekitar 1 atau 2 bulan lalu, keluarga  tersebut pergi ke Malaysia. Selain itu, ditemukan juga sejumlah buku bacaan berbau  khilafah, HTI dan Syiah.

Nurhidayat menceritakan, awalnya seusai salat Jumat, ia didatangi oleh dua orang mengaku    anggota Polda DIY. Keduanya minta izin untuk melakukan penggeledahan di rumah Pon. Ke-mudian ia diboncengkan mengendarai motor dan dibawa ke rumah terduga. “Ternyata disana  sudah  ada  anggota Mabes, kira-kira 30 orang berpakaian hitam-hitam seperti ninja. Saya  dijadikan saksi untuk proses penggeledahan,” urainya.

Kepada wartawan, Satu persatu, kamar di rumah itu digeledah dengan detail, termasuk  bangunan yang kesehariannya digunakan sebagai tempat PAUD dan TK. Saat penggeledahan, istri dan dua putrinya juga ada, sedangkan terduga yang ditangkap  didepan Puskesmas Mlati,  Sleman sebelum  salat Jumat itu, tidak terlihat.

Nurhidayat mengungkapkan, Pon tinggal dirumah tersebut sejak 15 tahun silam. Sedangkan PAUD dan TK berdiri sejak 8 hingga 9 tahun lalu. Istri terduga, mempunyai ilmu agama yang dinamis dan ikut andil dalam  pendidikan sebuah TK dan PAUD di wilayah Kota Yogya,   sehingga ia dipercaya membuka PAUD dan TK di rumahnya.

Nur mengungkapkan, tidak ada penjelasan dari polisi terkait apakah Pon merupakan teroris  atau  bukan. “Mereka (Densus) meminimalisir pembicaraan dengan saya,” ucapnya.

Selama ini  keluarga terduga membatasi diri dalam pergaulan dengan warga sekitar. Mereka bahkan mempunyai jaringan jemaah yang eksklusif dan tidak pernah mau bergabung dengan masyarakat sekitar. Mereka juga tidak mau tahlilan, takziah malah  membid'ah dan mengharamkan. (Ayu/Aha)

 

BERITA REKOMENDASI