Terima Wastafel Sumbangan Pembaca ‘KR’, PMI Sleman Siap Hadapi Bencana Merapi

SLEMAN, KRJOGJA.com – Berbagai persiapan sudah dilakukan PMI Sleman jika terjadi bencana Merapi. Antara lain menyangkut SDM relawan yang sesuai dengan keterampilan yang jumlahnya mencapai 200 orang lebih. Juga sudah melakukan inventarisasi kebutuhan dan rencana mitigasi serta menyiapkan posko utama di Pakem dan Sub Posko di Cangkringan dan Turi. Masyarakat di kawasan rawan bencana (KRB) juga dikondisikan.

“Jika sewaktu-waktu terjadi bencana, kami tinggal menggerakkan saja. Tentu saja kami juga berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, misalnya BPBD,” kata Ketua PMI Cabang Sleman, dr Sunartono, saat berbincang dengan Direktur Utama PT BP Kedaulatan Rakyat HM Wirmon Samawi SE MIB usai penyerahan bantuan wastafel di Posko Utama PMI Tanggap Bencana Merapi yang berlokasi di Pakem, Selasa (29/12).

Didampingi Komandan Posko Utama, Tri Joko S, Divisi SDM Wahyu dan Hendri dari Sub Posko Cangkringan, dr Sunartono menjelaskan, jika Merapi meletus, ada sekitar 30.000 orang yang harus diungsikan. Mengenai pelaksanaan pengungsiannya, nantinya masih melihat arah letusan. Artinya, warga yang berada di wilayah yang paling rawan terkena letusan tentu saja yang didahulukan.

Tri Joko juga menambahkan, para lurah di wilayah KRB juga sudah melakukan berbagai persiapan. Misalnya sudah mendata jumlah penduduk yang mesti diungsikan dan jumlah kendaraan yang ada. “Dari data yang ada, jumlah kendaraan sudah mencukupi untuk mengevakuasi pengungsi,” tambahnya. Tiap desa juga memiliki relawan piket.

Wahyu dari divisi SDM menambahkan, tempat pengungsian terdiri barak dan non barak. Sebab barak yang ada tidak mencukupi, karena harus diberlakukan jaga jarak, sehingga di dalam barak dibuat sekat-sekat. Karena itu daya tampungnya menjadi berkurang. Kalau sebelumnya bisa menampung 200an orang, sekarang satu barak hanya bisa dibuat sekitar 40 sekat dan setiap sekat untuk 2 orang.

Sedang tempat pengungsian non barak terdiri rumah pribadi dan gedung-gedung sekolah. Saat ini Di sekolah, tambah Hendri dari Sub Posko Cangkringan, sudah ada dua lurah sudah buat MoU dengan pihak sekolah yang siap digunakan untuk mengungsi, termasuk mengizinkan kelasnya disekat-sekat. Selain itu sudah ada tiga rumah pribadi yang boleh untuk mengungsi dan disekat-sekat. “Kalau sewaktu-waktu terjadi bencana, masyarakat juga sudah tahu mesti ke mana atau di mana titik kumpulnya,” jelasnya.

Mengenai perkembangan kondisi Merapi, Tri Joko menjelaskan, saat ada pesta demokrasi Pilkada maupun Pilkada, aktivitas Gunung Merapi landai-landai saja. Tetapi kini, aktivitasnya tampak meningkat. Hanya saja peningkatannya belum sampai membahayakan. Untuk itu pihaknya informasi perkembangannya dari BPPTKG. (Fie)

BERITA REKOMENDASI