Terungkap Fakta! Tidak Ada Koordinasi Pembina dengan Sekolah Soal Susur Sungai

Editor: Agus Sigit

SLEMAN, KRJOGJA.com – Ketua Kwarda Pramuka DIY GKR Mangkubumi menyebut tidak ada koordinasi yang baik antara pembina dengan pihak sekolah saat penyelenggaraan kegiatan susur sungai. Mangkubumi pun dengan tegas menyatakan sangat mungkin memberikan sanksi pada para pembina yang berada di bawah kewenangan Dewan Kehormatan Kabupaten/Kota, DIY.

“Semua pasti ada sanksi karena yang mengeluarkan itu dewan kehormatan di kabupaten/kota dan Kwarda. Hasil (pemeriksaan) dari Polres nanti akan masuk ke kami dan akan tindaklanjuti. Ada reward dan sanksi,” ungkap Mangkubumi.

Kepada wartawan, Mangkubumi juga mengatakan bahwa penyelenggaraan kegiatan yang dilakukan Jumat (21/2/2020) tidak ada koordinasi dengan sekolah. Kwarda pun menyatakan akan meninjau ulang aturan kegiatan berbasis gugus depan di sekolah.

“Kejadian ini semoga yang terakhir, penanda kegiatan kepramukaan sangat disayangkan tak terintegrasi dan terinformasi dengan pihak sekolah. Kami akan meninjau kembali untuk aturan kegiatan berbasis gugus depan di sekolah. Jangan sampai kegiatan kepramukaan di luar sekolah itu tidak bersinergi dengan sekolah karena tanggung jawab ada di gugus depan dan pembina,” tegas dia.

Mangkubumi berjanji akan menelaah lebih detail terkait aturan yang ada di Kwarda Pramuka DIY terutama untuk kegiatan luar ruangan. Pertimbangan resiko, serta plus minus sebuah kegiatan harus diperhitungkan betul agar insiden seperti kemarin tak lagi terjadi.

“Kami undang pimpinan dan pelatih yang juga akan memberi edukasi kebencanaan atau hal seperti ini betul, agar pembina lebih berhati-hati memilih kegiatan outdoor. Sebelum berangkat harus tahu plus minus termasuk resiko dengan membawa segitu banyak siswa,” sambung putri sulung Sri Sultan HB X ini.

Sementara pihak sekolah melalui Tutik Nurdiana, Kepala Sekolah mengakui tak ada koordinasi tentang penyelenggaraan susur sungai. Menurut dia, kegiatan tersebut sudah rutin dilakukan setiap semester sehingga dianggap hal yang lumrah saja.

“Kemarin ada program kegiatan susur sungai, ini rutin di latihan pramuka. Anak-anak, penduduk sini pasti familiar dengan lingkungan Turi ini maka tidak ada hal khusus. Pendamping 7 itu dari sekolah, bapak dan ibu guru. Saya kebetulan baru 1,5 bulan di sini dan program itu melanjutkan program lama. Semester lalu sudah ada, tapi jujur saya tak tahu program kemarin (susur sungai) karena dinilai hal biasa, anak Turi susur sungai itu biasa,” tandas Tutik. (Fxh)

Baca juga:
Cerita Dramatis Korban Selamat ‘Susur Sungai Maut’

Dua Siswa Ditemukan Pagi Ini, Korban Meninggal Susur Sungai Menjadi 9 Orang
Tragedi Susur Sungai Sempor, Polda DIY Dalami Unsur Pidana

 

BERITA TERKAIT