Titah Baru Sri Sultan HB X: “Gunung Harus Kembali ke Gunung”

Editor: Ary B Prass

Di antara Sungai Gendol, Sungai Opak, Sungai Kuning dan wilayah Umbulharjo, Argomulyo, Glagaharjo, Kepuharjo Kepanewonan Cangkringan. Selama lebih dari empat jam berkeliling, Sultan menemui berbagai elemen masyarakat terdampak pertambangan.

“Warga sudah lama mengalami kesulitan air akibat muka air tanah yang turun karena penggalian lokasi tambang. Apalagi yang ditambang ini statusnya adalah Sultan Ground, kami nyuwun dhawuh Ngarsa Dalem,” ungkap seorang warga yang hadir.

 

Senada, warga Hargobinangun, Argomulyo dan Glagaharjo juga mengeluh kesulitan mengakses air bersih.

Sejumlah perwakilan kelompok tani Hargobinangun bahkan secara tegas memohon Sultan untuk menutup penambangan, terutama yang ada di Kali Kuning.

 

“Penambangan pasir dengan alat berat di lereng Merapi mohon segera dihentikan, Ngarso Dalem,” pinta perwakilan Paguyuban Peduli Kali Kuning, Nur Ahmad kepada Sultan.

Menurut Nur, semula pihaknya bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kalurahan Hargobinangun mengajukan surat keberatan ke Pemkab Sleman atas aktivitas penambangan pasir di Kali Kuning pada 20 Agustus 2020 yang lalu.

 

“Setelah kami mengajukan keberatan ke Pemerintah Sleman, memang ada tindak lajut, sehingga air di Kali Kuning berangsur jernih kembali. Namun, beberapa waktu berselang air di Kali Kuning kembali keruh, Ngarso Dalem,” lanjutnya.

Untuk itu, tambah Nur, pihaknya bersama Gapoktan kembali mengajukan surat keberatan yang kedua kepada pemkab Sleman pada 21 Agustus lalu. Kepada Sultan, Nur menambahkan bahwa fungsi air Kali Kuning bagi beberapa padukuhan di Hargobinangun tidak hanya untuk irigasi, tetapi juga sebagai pemasok sumur resapan komunal di setiap padukuhan.

BERITA REKOMENDASI