TMMD, Kekuatan dan Tantangan Perjuangan TNI-Rakyat di Era Milenial

MATAHARI bersinar sangat terik. Rasa dahaga dan lapar menyerang masyarakat bersama prajurit yang sedang melaksanakan Program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap II Kodim Sleman. Namun, semuanya terlihat tetap bersemangat bahu membahu menyelesaikan pembangunan fisik di Dusun Sempu Nggandok Desa Wedomartani Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman di pertengahan Juli 2018.

Tak ada yang menggerutu, apalagi bermalas-malasan. Program ini telah memperkuat kesatuan dan persatuan seluruh elemen masyarakat yang ikut andil dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Seluruh elemen masyarakat, tua muda, laki-laki, dan perempuan bahkan anak-anak semuanya terpanggil membantu TNI menyelesaikan pekerjaan. Kaum Ibu juga turut berperan sesuai kemampuan dan menyumbangkan daya dalam pembanguan desa tersebut. 

Kebaikan hati juga  terpancar dari kaum ibu di dusun ini. Salah satunya Ibu Suratmin, Warga RT 01 yang rumahnya dapat giliran sebagai tempat memasak, Selasa (17/07/2018). Bersama Ibu-ibu PKK lainnya Dia menyiapkan makanan, membungkus minuman, serta kebutuhan lain yang sekiranya berguna di lokasi TMMD. Makanan dan minuman pelepas dahaga pasti dibutuhkan anggota Satgas TMMD bersama warga lainnya. Dengan sukarela kaum ibu bersama warga setempat mengerahkan semua kemampuan karena menanggap semua hal itu sebagai upaya. Dampak yang lebih besar, warga akan merasakan manfaat dari salah satu proses pembangunan desa. 

Wujud kemanunggalan antara rakyat dan TNI juga ditunjukkan oleh Mbah Kardi (65). Di usia tuanya, masih menunjukkan semangat pantang menyerah dalam membantu TNI dalam kegiatan TMMD Reguler Ke-102 di Desa Gandok, widomartani Sleman.  Kakek beberapa cucu ini sejak awal pelaksanaan TMMD selalu berpartisipasi membantu apa saja. Mulai dari kegiatan bedah rumah tak layak huni, pembangunan jalan, kerja bakti dan lainnya,Selasa 17 juli 2018. "Walau sudah tua, saya ingin membantu sekuat tenaga dalam kegiatan TMMD yang dilaksanakan TNI dari Kodim 0732/Sleman dan warga. Sukarela saya lakukan bersama warga agar desa kami lebih baik. Saya berusaha semampu saya," ungkapnya.

Kardi kakek kelahiran Desa Gandok itu menjadi teladan warga sekitar yang usianya jauh lebih muda. Meski tubuhnya renta, bukan berarti sudah malas bekerja, justru sebaliknya berpartisipasi bergotong-royong dalam kegiatan fisik TMMD Reguler Kodim Sleman. "Mbah Kardi itu kalau ada kegiatan sosial selalu gesit dan selalu ikut serta. Dia juga suka bercanda dengan kami ini yang masih muda," ungkap Yanto, warga Desa Gandok, saat kegiatan fisik membangun jalan, Cerita Babinsa Widomartani yang selama ini selalu bersama warganya.

Pengorbanan yang dilakukan kaum Ibu dan Mbah Kardi itu seakan merefleksikan perjuangan rakyat bersama dengan TNI dalam masa perjuangan. Kemerdekaan merupakan tujuan yang harus dicapai dan rakyat rela mengorbankan harta benda bahkan nyawa guna mengusir penjajah. Mereka bersatu padu dan bekerjasama mewujudkan cita-cita itu. Menariknya, nilai-nilai itu terus terjaga dalam program TMMD ini, tepatnya Sengkuyung Tahap II Kodim Sleman. Upacara Pembukaan dilakukan Komandan Kodim 0732/Sleman Dandim 0732/Sleman Letkol Inf Diantoro, SIP pada Selasa (10/07/18) yang ditandai dengan Pemukulan Kentongan Oleh Wakil Bupati Sleman Hj Sri Muslimatun Mkes.

Pasiter Dim 0732/Slm Kapten Inf Nugroho dalam laporannya mengatakan TMMD Sengkuyung Tahap II ke 102 Tahun 2018 di wilayah Kabupaten Sleman, dilaksanakan mulai 10 juli – 8 Agustus di Dusun Gandok, Desa wisomartani, Kecamatan Ngemplak. Adapun sasaran bertema ‘Dengan Semangat Kemanunggalan TNI,POLRI, Kementrian, Lembaga Pemerintah Non Kementrian, Pemerintah Daerah dan Seluruh Komponen Bangsa lainya, Kita Laksanakan Percepatan Pembangunan Melalui Program TNI Manunggal Membangun Desa Guna Menuingkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Pedesaan’ berupa pengerasan Jalan, rehabilitasi masjid/musala, Poskamling, pembangunan talud, lantainisasi dan jambanisasi.   

Tua Muda tampak antusias terlibat dalam Program TMMD Sleman (Istimewa/Pendim 0732 Sleman)

Rasa persatuan dan kesatuan begitu terasa dalam program ini karena prajurit TNI juga dibantu oleh personel Polri yang tergabung dalam Satgas TMMD. Termasuk Linmas yang mewakili unsur rakyat. Kemesraan dua institusi akan mempercepat penyelesaian program dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan. Bukti konkrit itu ditunjukkan oleh sepuluh personel dari Polsek  Widomartani mengikuti kegiatan TMMD ini. Keikutsertaan unsur Polri dan Linmas dalam TMMD Ke-102 ini dilakukan dalam sasaran fisik pembangunan Balai Desa Jembul. Selain di sasaran fisik, pelibatan Linmas juga pada sasaran non fisik seperti penyuluhan keamanan dan ketertiban masyarakat. Hal serupa juga terjadi di Mapolsek Ngemplak yang mengirimkan beberapa anggota  terbaiknya agar mensukseskan kegiatan ini. 

Komandan SSK TMMD Kapten Inf Arly Lakandae mengakui ada pelibatan personel yang tergabung dalam Satgas TMMD ini, selain unsur TNI, diantaranya unsur Polres Sleman dan Pemkab Sleman masing-masing 10 orang dan Linmas. Lalu  Ormas serta warga masyarakat yang setiap harinya jumlahnya bervariasi sesuai kapasitas pekerjaan. Diakui, keikutsertaan Instansi terkait dimaksudkan untuk memperkokoh sinergitas yang sudah terbangun selama ini.  "Pelibatan institusi pemerintah dan komponen masyarakat secara terintegrasi dalam TMMD ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan infrastruktur yang belum ada dan memperbaiki infrastruktur yang sudah ada namun kondisinya memerlukan pemeliharaan, perawatan dan renovasi," pungkasnya.

Harapan itu tak sekadar isapan jempol dan di lapangan terlaksana dengan baik. Contohnya, penyuluhan Wawasan Kebangsaan yang dilaksanakan oleh Kodim 0732/Sleman, Kamtibmas Sleman dan Penyuluhan Ideologi Pancasila yang digelar di  balai Desa Wedomartani Kecamatan Ngemplak. Selain itu, penyuluhan tentang ideologi Pancasila dari Pusat studi Pancasila UGM, Penyuluhan KB, serta Kampanye Warfing dari Ajenrem 072. Bahkan, Ipda Novianti  mengajak masyarakat untuk meningkatkan Siskamling guna mencegah terjadinya pencurian dengan pemberatan (Curat), pencurian dengan kekerasan (Curas), pencurian hewan (Curwan) dan pencurian kendaraan bermotor (Curanmor).  

Pemateri juga mengajak segenap masyarakat khususnya karang taruna dan generasi muda untuk menjauhi Narkoba karena dapat merusak generasi penerus bangsa. Disinggung pula tentang pentingnya bela Negara yang harus dilakukan oleh semua warga Negara. Secara umum, keseluruhan sasaran fisik tersebut telah selesai 100 persen, sehingga hasilnya dapat dinikmati serta dirasakan oleh masyarakat setempat. Diantaranya, pembangunan talud, membuat gorong-gorong, pengerasan jalan, merehab masjid, merehab pos kampling serta merenovasi rumah tidak layak huni.  

Hal ini ditegaskan Dandim saat upacara penutupan yang berlangsung di Lapangan Pokoh, Wedomartani, Ngemplak, Rabu (08/08/2018). Acara penutupan juga dihadiri Bupati Sleman, H Sri Purnomo yang memberi apresiasi terhadap seluruh anggota Satgas terlibat. Selain itu, meminta masyarakat ikut menjaga hasil pembangunan termasuk jiwa gotong royong ini.

Sebagaimana diketahui TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang pada awalnya dikenal dengan ABRI Masuk Desa (AMD) merupakan program kerjasama lintas sektoral antara TNI, Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dan Pemerintah Daerah, serta Komponen Bangsa lainnya. Kegiatan dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan dalam upaya membantu meningkatkan akselerasi pembangunan di daerah-daerah tertinggal, terisolasi, pinggiran dan terbelakang. Hal itu sesuai Amanat Presiden Soeharto pada Hari Ulang Tahun ABRI XXXIII tanggal 5 Oktober 1978, yang secara garis besar mengajak segenap Anggota ABRI meresapi dan menghayati kembali Kemanunggalan ABRI dengan Rakyat.  

Kemanunggalan tersebut pernah terwujud dalam sejarah pembentukan bangsa Indonesia, untuk itu Presiden Soeharto mengharapkan kemanunggalan ABRI dengan Rakyat harus semakin diperkuat demi suksesnya tugas sejarah yang diletakkan di pundak ABRI.   Tindak lanjut dari ajakan Presiden kedua RI tersebut untuk konkretisasi kemanunggalan ABRI dengan Rakyat, Menteri Hankam/Pangab pada saat itu menetapkan Strategi ABRI Masuk Desa sebagai bagian integral dari strategi dasar Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia dan Pembangunan Manusia Indonesia seutuhnya. Program tersebut yang pada awalnya untuk mencapai kemanunggalan ABRI dengan Rakyat, ternyata berimbas positif dalam percepatan pelaksanaan program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah.  

Seiring adanya Reformasi ABRI, dengan dipisahkannya Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan TNI melalui upacara pemisahan pada tanggal 1 April 1999, ABRI Masuk Desa berubah nama menjadi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Perubahan sebutan dari ABRI Masuk Desa menjadi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), ternyata tidak merubah tujuan awal dari dicetuskannya pelaksanaan AMD untuk pertama kalinya, selain untuk lebih mempererat kemanunggalan TNI dengan Rakyat, juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan dan memantapkan kesadaran bermasyarakat, berbangsa, bernegara, bela negara dan disiplin nasional. 

Anggota Linmas bersatu bersama TNI sebagai wujud sinergi dan kemanunggalan bersama rakyat (Istimewa/Pendim 0732 Sleman)

Program TMMD tersebut ternyata berhasil mencapai sasaran yang diprogramkan, baik sasaran fisik maupun sasaran lainnya, keberhasilan tersebut bahkan mengilhami lahirnya program-program manunggal diantaranya TNI Manunggal Pertanian, TNI Manunggal Aksara, TNI Manunggal KB-Kes dan TNI Manunggal Sosial Sejahtera. Sejalan dengan bertambahnya usia TNI yang ke 73 pada 5 Oktober 2018, sudah saatnya program TMMD disesuaikan dengan tantangan atau masalah bangsa Indonesia di era milenial. 

Masalah itu diantaranya Pertama, tatanan dunia baru, seiring melemahnya hegemoni kekuatan super sebagai akibat pengaruh kekuatan-kekuatan ekonomi baru seperti China, Rusia, India, dan Brazil. Tatanan dunia saat ini berubah menjadi unimultipolar yang berdampak pada pergeseran kekuasaan yang berada pada titik nadir. Bahkan, karena kepentingan menjadi keutamaan, maka aliansi tersebut dapat dimungkinkan melintas ideologi. Sedangkan kepemimpinan negara baru super power telah mengubah pola intensitas komitmen terhadap keamanan global. Kondisi ini  diperparah dengan adanya aktor non negara membawa kepentingan kelompok yang dikemas dalam wujud ideologi, agama, suku hingga ekonomi.  

Wujud nyata dari realitas ini adalah munculnya instabilitas di beberapa kawasan yang sedianya berada dalam kendali seperti di Timur tengah Irak dan Suriah. Termasuk ISIS di Filipina dan krisis nuklir di Korea Utara. Berbagai hal tersebut pada gilirannya telah menjadikan fungsi utama angkatan perang sebagai peran konvensional menjadi obsolete (usang) jika dibandingkan dengan ancaman kontemporer lainnya yang bersifat asimetris, proksi, hibrida, dan kejahatan lintas negara termasuk siber.

Tantangan kedua adalah terorisme. Semua negara rentan terhadap ancaman teroris, bahkan terorisme sering dijadikan alat untuk menguasai suatu wilayah yang berujung pada perang melibatkan pihak ketiga seperti yang terjadi di Irak dan Suriah. Kasus di Irak dan Suriah menunjukkan terorisme terbukti berujung pada perang proxy atau perang hibrida dengan melibatkan berbagai aktor seperti aktor negara maupun nonnegara. Tanpa alat perang, namun hanya melalui berbagai media sosial dan jaringan media internet lainnya,  kelompok teroris telah mampu secara cepat menyebarkan pengaruh. Bahkan mengaktifkan sel tidur ataupun simpatisannya di seluruh dunia demi mendukung kepentingannya. 

Tantangan ketiga yaitu perang siber (cyber war). Ancamannya dianggap sama bahayanya dengan senjata kinetik sehingga menganggap perkembangan dunia siber harus dijadikan pertimbangan dalam fungsi ketahanan dan keamanan nasional.  Apalagi dimensi siber dihuni hampir 2/3 aspek kehidupan manusia modern. Karena itu, akan memerlukan suatu pengamanan di dalamnya misalnya serangan siber pernah dilakukan Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan program nuklir Iran. 

Tantangan keempat adalah kebangkitan Cina yang sangat pesat karena telah mengubah konstalasi politik dunia dalam waktu singkat lewat ekonomi dan militer. Cina berupaya mengemas kebangkitan fenomenalnya itu dengan slogan yang diviralkan oleh pemerintahnya sebagai China charm offensive yang membuat negara tersebut bertindak agresif untuk mengekspansi beberapa kawasan seperti ambisinya menguasai Laut Cina Selatan. Bahkan, dengan ketiga pangkalan militer di kawasan itu dan di Pulau Hudi, Cina diperkirakan akan mampu menyelengarakan perang di seluruh wilayah Laut Cina Selatan. 

Tantangan kelima adalah kerawanan di laut Indonesia dan TNI bertanggung jawab atas ancaman itu baik dari luar dan dalam. Termasuk pada laut bebas yang berbatasan langsung dengan wilayah tersebut. Bukti dari ancaman di wilayah laut yaitu perampokan bersenjata dan penculikan di wilayah perairan Filipina Selatan yaitu sekitar Laut Sulu oleh kelompok Abu Sayyaf.

Selain lima tantangan itu yang bisa dijawab melalui serangkaian non fisik,  program TMMD juga diselaraskan dengan kebijakan nasional ‘Nawacita’ yang ingin mewujudkan pembangunan Indonesia. Program TMMD menegaskan salah satu peran nyata TNI dalam mendukung pembangunan tersebut. 

Melalui seluruh upaya yang dilakukan, niscaya harapan KSAD Jenderal TNI Mulyono  selain mewujudkan kemanunggalan TNI dan Rakyat, TMMD yang dilaksanakan sekali dalam setahun ini juga merupakan wahana untuk menggelorakan kembali semangat gotong royong, rasa cinta tanah air, wawasan kebangsaan serta Ketahanan Nasional guna menjaga keutuhan NKRI kepada masyarakat dan khususnya generasi milenial bisa tercapai hingga masa depan. (tomi sujatmiko)

BERITA REKOMENDASI