TPST Piyungan Overload, Pengelolaan Basis Masyarakat Jadi Solusi

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan sudah beberapa tahun ini kelebihan beban (overload) karena terus menerima kiriman sampah sampai 600 ton perhari. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat bisa menjadi solusi efektif untuk mengurangi beban TPST Piyungan hingga 80 persen.

Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana mengatakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat perlu dikembangkan lebih luas. Upaya mengurai sampah sebelum dibawa ke Piyungan menjadi salah satu opsi efisien yang harus disuarakan di seluruh wilayah DIY.

“Kita melihat bagaimana di Kelompok Sampah Mandiri (KSM) 'Ngudi Raharjo' di Jetis, Widodomartani Ngemplak Sleman, sampah dipilah terlebih dahulu sebelum dibawa ke TPST Piyungan. Sampah yang bisa didaur ulang dipisahkan, jadi hanya residu yang tak bisa termanfaatkan yang dibawa ke Piyungan,” ungkap Huda Kamis (16/01/2020).

KSM 'Ngudi Raharjo' saat ini diketahui mengelola sampah dari tujuh dusun yang meliputi 315 Kepala Keluarga (KK), termasuk warung dan kantor. Untuk rumah tangga ditarik iuran tiap bulan sebesar Rp 15 ribu, warung Rp 30 ribu dan kantor Rp 50 ribu.

Hasil iuran dan penjualan sampah daur ulang digunakan untuk operasional termasuk membayar upah pekerja. Dari perputaran itulah KSM Ngudi Raharjo hidup dan mampu mengurangi beban ke TPST Piyungan.

“Model pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini perlu dimatangkan konsepnya dan dikembangkan masif di DIY, jadi di tiap desa ada satu TPS mandiri maka 80 persen masalah sampah di DIY akan selesai. Untuk penyelesaian masalah sampah di TPST Piyungan, menurut kajian dibutuhkan investasi sekitar Rp 300 miliar, pengelolaan sampah swadaya oleh masyarakat ini menjadi solusi yang efektif dan murah, dan menyerap tenaga kerja,” tandas Huda. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI