Transportasi Berkeselamatan dan Manusiawi

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pada masa pandemi Covid-19, dunia transportasi, baik udara, darat dan udara harus berpijak, transportasi berkeselamatan dan manusiawi. Kondisi memang tidak mudah karena transportasi urusan manusia yang bergerak secara dinamis.

Demikian diungkapkan Dr Ir H Ircham MT, Rektor Institut Teknologi Nasional Indonesia (ITNY) saat membuka Seminar Nasional dan Rapat Tengah Tahunan anggota Forum Studi Transportasi antar-Perguruan Tinggi (FSTPT) dari kampus ITNY, Babarsari Sleman, Kamis (26/08/2021). Seminar menghadirkan narasumber Marsma TNI Agus Pandu Purnana (General Manager Bandara Adisutjipto – Yogyakarta) dan Dr Ir Harmanto Dwiatmoko MS (Ketua Umum Maska/Masyarakat Perkeretapian Indonesia) dengan moderator Dr Ani Tjitra Handayani MT. Seminar dengan Keynote Speaker Prof Dr Agus Taufik Mulyono MT ini secara daring dan diikuti 890 peserta serta 105 institusi.

Menurut Ircham, transpotasi berkselamatan dan manusiawi menjadi standar dan acuan. “Dalam situasi apapun trasportasi udara, darat dan laut harus aman. Itu artinya manajemen transportasi memang harus dirancang sebaik mungkin. Keselamatan pertimbangan utama,” ucapnya.

Ditambahkan Ircham selama pandemi Covid-19 transportasi kereta api dan pesawat berjalan baik. Justru kebijakan pemerintah terkait protokol kesehatan perlu disosialisasikan agar masyarakat memahami secara baik.

Sedangkan Dr Ir Hermanto Dwiatmoko membahas adaptasi transportasi kereta api di masa pandemi. “Dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerha operasional angkutan kereta api jumlah penumpangnya turun, namun angkutan barang relatif meningkat,” ujarnya.

Angkutan kereta api yang menerima dampak selama PSBB, PPKM. Angkutab penumpang antarkota menurun 59 persen, angkutan perkotaan non-KRL Jabodetabek menurun 82 persen. Angkutan KRL Jabodetabek menurun 7 persen. “PT KAI sebagai operator perkeretaapian terbesar mengalami dampak terhadap keberlangsungan bisnis perusahaan,” ucapnya.

Hermanto Dwiatmoko memaparkan strategi peningkatan angkutan kereta api. Pengurangan jumlah penumpang kereta api pada setiap perjalanan kereta api, 50 persen dari kapasitas penumpang. Selain itu, perlu dilakukan pengaturan ulang jadwal untuk menjaga agar jumlah penumpang di stasiun optimal, tidak ada penumpukan. “Tak kalah pentingnya peningkatan protokol kesehatan untuk mengurangi penularan Covid-19,” katanya.

Ditambahkan Hermanto Dwiatmoko, perlunya dilakukan peningkatan utilisasi atau pemanfaatan rasio input, rasio waktu kerja terhadap kereta dan gerbong untuk mengantisipasi pasar baru angkutan kereta api. (Jay)

BERITA REKOMENDASI