Tujuan Haji dan Umrah Banyak Bergeser

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Tujuan orang melaksanakan haji dan umrah kini banyak yang bergeser. Kalau dulu orang pergi ke tanah suci murni semata-mata untuk melaksanakan ibadah, kini bukan hanya untuk beribadah saja, tetapi juga disertai kepentingan lain, misalnya bisnis atau untuk berdoa agar obsesi politiknya tercapai.

“Sekarang banyak orang melaksanakan umrah agar terpilih lagi menjadi anggota DPR atau lainnya,” kata Direktur Bina Haji Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag RI, H Khoirizi Dasir SSos MM, saat membuka Diklat Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji di Asrama Haji DIY, Jumat (24/01/2020).

Diklat yang berlangsung 8 hari ini diikuti peserta dari berbagai provinsi, antara lain Lampung, Palembang, Bengkulu, Balikpapan, Sulawesi, di samping dari DIY, Jateng, Jabar, dan Jawa Timur. Pada hari pertama sebagai pemateri selain Khoirizi juga Rektor UIN Saka Prof KH Yudian Wahyudi PhD. Sedang hari kedua antara lain  Wakil Rektor UIN Dr Waryono, Kabid PHU Kanwil Kemenag DIY Drs H Sigit Warsita, MA, dan pengasuh Ponpes Al-Imdad Bantul KH Habib A Syakur. Kemudian pada Minggu (26/01/2020) hari ini menghadiri pemateri antara lain Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Kemenag RI Dr H Ali Rokhmad MPd Kakanwil Kemenag DIY Drs H Edhi Gunawan MPdI, dan Wakil Dekan Fak Dakwah UIN Hj Alimatul Qibtiyah. 

Mengenai kepentingan bisnis orang berangkat haji atau umrah, menurut Khoirizi, antara lain dengan mengumpulkan uang dam atau badal haji. “Selain itu ada juga yang berangkat haji untuk menaikkan popularitas. Dengan menyandang titel haji diharapkan akan semakin terkenal. Karena itu sering kita lihat, begitu sampai Tanah Suci langsung selfie dulu di halaman Masjid Nabawi atau zamzam tower,” tambahnya.

Berkenaan fenomena ini, Khoirizi berharap para pembimbing manasik haji meluruskan niat para jemaah yang dibimbingnya. Mereka harus melakukan edukasi  sejak masih di tanah air, sehingga nantinya di tanah suci tidak salah niat.  “Karena itulah kami ingin mencetak banyak pembimbing manasik haji yang profesional melalui diklat sertifikasi yang bertujuan untuk penguatan ibadah,” tambahnya.

Dijelaskan, tugas pembimbing sangat berat. Karena di tangannya sah tidaknya ibadah seorang jemaah. Apalagi saat ini tingkat pemahaman ibadah para jamaah masih 87,13 persen.

Nantinya harus mencapai 100 persen. Sebab, aspek pelaksanaan ibadah haji berbeda dengan lainnya. Kalau hotel tidak bagus, tahun berikutnya bisa tidak dipakai lagi.

Kalau busnya tidak baik, besok tidak digunakan lagi. Kalau catering tidak memuaskan bisa diputus kontrak kemudian tahun depan cari karering lain. Tetapi kalau ibadah jemaah tidak sah, tahun berikutnya tidak mungkin diulang lagi.

“Karena itu jadilah pembimbing yasng amanah. Tidak ada yang lebih mulia dari melayani para tamu Allah,”  tegasnya. (Fie)

BERITA REKOMENDASI