UNESCO Inisiasi Proyek Pemetaan Resiko Bencana di Prambanan

SLEMAN, KRjogja.com – Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO menginisiasi proyek pemetaan resiko cagar budaya di Kawasan Candi Prambanan. Didanai oleh UNESCO Heritage Emergency Fund, kegiatan tersebut didukung oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah dan DIY, PT Waindo SpecTerra dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Baca Juga: Arkeolog Yunani Temukan Jasad 1.800 Tahun

Proyek ini bertujuan untuk menegaskan pentingnya mitigasi bencana di sektor budaya dengan cara pemetaan warisan budaya, baik yang benda maupun tak benda, yang berlokasi di kawasan yang rawan bencana alam seperti gempa dan tanah longsor. Kawasan Prambanan dipilih sebagai lokasi pertama.

“Kami sengaja memetakan tujuh situs cagar budaya sebagai bagian dari inistiatif penanggulangan bencana. Ini penting untuk dilakukan mengingat tingginya resiko terjadinya bencana di lokasi-lokasi tersebut,” kata Zaimul Azzah MHum, Kepala BPCB DIY sesuai dengan keterangan resmi yang diterima KRjogja.com, Kamis (12/12/2019).

Ia menjelaskan mengapa Kawasan Candi Prambanan dipilih sebagai lokasi pertama karena sejumlah candi di sana terletak diatas sesar opak, salah satu patahan paling aktif yang mana pergerakannya telah mengakibatkan bencana alam di sekitar Yogyakarta dan sekitarnya.

Dilanjutkannya, proyek ini akan menghasilkan gambar-gambar digital tiga dimensi dari tujuh warisan budaya candi yaitu Prambanan, Sewu, Lumbung, Bubrah, Ghana, Ijo, dan Ratu Boko, serta indeks kerentanan dan indeks resiko masing-masing candi dan data geologis dari kawasan sekitar candi-candi tersebut.

“Kebutuhan untuk upaya mitigasi bencana di sektor budaya telah mendapatkan atensi dunia internasional sejak terjadinya gempa besar di Kobe, Jepang, yang mana akibat kerusakannya dapat dirasakan hingga ke kota-kota warisan budaya sekitarnya," tambahnya.

Namun, meskipun diskusi publik telah dilakukan selama dua dekade terakhir, pada praktiknya sangat sedikit yang sudah dilakukan untuk mempersiapkan cagar budaya dalam menghadapi bencana, baik alam maupun karena aktivitas manusia.

"Kerjasama yang dilakukan oleh BNPB, serta unit-unit pelestari cagar budaya dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta para ahli sangat kami apresiasi. Kami berharap proyek ini dapat menjadi contoh agar daerah lain di Indonesia pun dapat melakukan hal serupa,” sebut Shahbaz Khan, Direktur UNESCO Jakarta.

Direktur Pengurangan Resiko Bencana BNPB, Dr Raditya Jati, SSi MSi menjelaskan bahwa Indonesia telah merasakan akibat dari bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api, seperti hilangnya nyawa penduduk dan kerusakan terhadap infrastruktur negara. Melalui pemahaman akan potensi bahaya, resiko dan kerentanan, kita dapat mengurangi akibat dari bencana alam dan melindungi cagar budaya dengan lebih baik, tidak hanya struktur fisik saja namun juga terkait dengan aktivitas sosial dan ekonomi.

“Persiapan kebencanaan di sektor cagar budaya akan meningkatkan ketahanan ekonomi di level daerah. Saya berharap proyek ini dapat menjadi inspirasi dibentuknya contoh kerjasama baru antara pemerintah nasional dan daerah, dengan partisipasi dari peneliti, civitas akademika, sektor swasta dan UNESCO,” tambah Raditya.

Baca Juga: Balai Arkeologi Yogyakarta Teliti Peninggalan Sukoharjo

Acara lokakarya telah diselenggarakan sebagai penutup dari proyek yang sebentar lagi akan selesai ini. Lokakarya tersebut akan menampilkan presentasi hasil dan data yang didapat dari survey lapangan. Data tersebut dikumpulkan selama beberapa minggu, termasuk pengambilan gambar tiga dimensi dari cagar budaya candi, yang akan diintegrasikan ke dalam Sistem Informasi Geografis (GIS) InaRISK.

Implementasi proyek ini diselenggarakan oleh PT Waindo SpecTerra, dengan kerjasama dengan antropologis dari CV Bawah Sadar, serta peneliti dan mahasiswa dari UGM dan para tokoh masyarakat pelestari budaya di desa-desa sekitar kawasan candi. (R-1)

BERITA REKOMENDASI