Ustadz Sigit Padukan Pengajian dengan Wayang

Editor: KRjogja/Gus

PENCERAMAH asal Minggir Sleman, Ustadz Sigit Nur Sahid mempunyai ciri khas tersendiri saat memberikan pengajian. Satu di antaranya biasa mementaskan wayang kulit kisaran 40 menit, sebelum pengajian selesai. Wayang kulit terutama dengan tokoh-tokoh Pandawa Lima dan Punakawan digunakan untuk menyimpulkan isi pengajian.

Hal ini pun dilakukan saat memberikan pengajiannya bertema Tahun Baru Hijriyah di Krajan Sidoluhur Sleman, Kamis (28/9/2017) malam. Kesimpulan yang disampaikan lewat tokoh-tokoh wayang terutama dikaitkan dengan keutamaan Bulan Muharam. Tokoh wayang yang ditampilkan, misalnya ada Prabu Kresna, Werkudara, Yudhistira, Arjuna, Nakula, Sadewa dan Semar. Ia bahkan mempunyai asisten tersendiri untuk menyiapkan wayang-wayang serta ada lima kru pemusik.

“Adanya wayang yang saya gunakan untuk menyimpulkan isi pengajian, diharapkan bisa menjadi suatu pengajian yang menarik, peserta pengajian bisa mengikuti sampai selesai dan membantu memudahkan memahami isi pengajian,” paparnya saat ditemui sebelum pengajian dimulai.

Beberapa keutamaan Muharam antara lain, Nabi Muhammad SAW pun banyak disebutkan sangat semangat dalam menjalankan puasa sunah Asyura (10 Muharam). Bahkan dalam HR Muslim disebutkan, “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharam. Sedangkan shalat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam”.  Selain itu ketika melakukan amal-amal baik di Bulan Muharam, Allah SWT akan melipatgandakan pahala.

Amal baik antara lain berpuasa sunah, memperbanyak sedekah, menyantuni anak yatim, menyambung silaturahim, menjenguk orang sakit dan meningkatkan ibadah salat wajib maupun sunah.  Khusus untuk lelaki seharusnya bisa melaksanakan salat wajib secara berjemaah baik di masjid maupun mushola. Tak kalah penting, pendidikan untuk anak-anak seperti Taman Pendidikan Alquran (TPA) bisa rutin dilaksanakan serta dikembangkan.

“Di akhir-akhir wayang, tokoh Prabu Kresna banyak berpesan kepada Werkudara sebagai simbol generasi muda untuk bisa selalu ‘beramar makruf nahi mungkar’ atau mengajak kepada kebaikan dan mencegah kejahatan,” tandas Ustadz Sigit Nur. (Yan)

BERITA REKOMENDASI