Warga Banyuraden Gelar ‘Suran Mbah Demang’

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Ribuan peserta mengikuti kirab budaya upacara adat 'Suran Mbah Demang', Senin (17/09/2018) malam. Rangkaian prosesi kirab ini diikuti puluhan bregada prajurit serta beragam kesenian yang menjadi potensi di wilayah Desa Banyuraden Gamping Sleman.

Turut hadir dalam kesempatan ini kerabat Pura Pakualaman, yakni putra KGPAA Paku Alam X, BPH Kusumo Bimantoro dan penghageng KPH Kusumo Parasto. Keduanya juga 'didapuk' untuk nyebar udhik-udhik bersama Kepala Desa Banyuraden, Sudarisman dan Camat Gamping Samsul Bakri.

Baca juga :

Kirab dan Wayangan Meriahkan Bersih Desa Banaran

Tiga Gunungan dan Ogoh-ogoh Memukau Warga

"Kegiatan adat ini tiap tanggal 8 Sura menurut kalender penanggalan Jawa Sultan Agungan. Melalui kegiatan ini kami ingin melanjutkan cita-cita luhur Ki Demang Cokrodikromo sebagai bekal dalam hidup bermasyarakat," tutur pemangku adat Sanggar Widyo Pramono, Murdianto Murda Puspita sela kegiatan.

Selain itu lanjutnya, kegiatan rutin tahunan ini sebagai wujud menghormati jasa Mbah Demang Cokrodikromo yang begitu besar, khususnya bagi masyarakat di Desa Banyuraden. Tidak pelak, rangkaian prosesi kirab mampu menyedot perhatian ribuan masyarakat yang sudah berjajar di sepanjang rute kirab mulai dari Sanggar Widyo Pramono melewati Jalan Godean hingga kediaman Ki Demang Cokrodikromo.

Camat Gamping Samsul Bakri mengatakan, pelestarian budaya menjadi tugas bersama termasuk masyarakat. Sehingga pihaknya mengapresiasi tinggi ketika masyarakat sangat getol untuk menjaga kelestarian budaya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang sudah meninggalkan warisan tak ternilai harganya.

"Tentunya kami berharap masyarakat juga mampu meneladani kebaikan yang sudah dilakukan Mbah Demang Cokrodikromo. Perjuangan beliau kepada masyarakat hingga akhirnya dapat mengambil pesan meningkatkan guyub rukun di tengah masyarakat," ungkapnya.

BPH Kusumo Bimantoro menegaskan Pura Pakualaman turut berbangga masyarakat masih memiliki keinginan kuat untuk melestarikan tradisi. Ia berharap kegiatan ini dapat membangun kebersamaan di antara warga masyarakat.

Dalam kesempatan ini, turut dikirab pusaka-pusaka milik Ki Demang Cokrodikromo, seperti Bende, Tombak, Kitab Ambiya dan Kendi Ijo berisikan persembahan bagi masyarakat. Upacara adat ini juga sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) DIY secara nasional oleh Kemendikbud RI yang mengharuskan untuk terus dilestarikan keberadaannya. (Feb)

BERITA REKOMENDASI