Warga Berprinsip Tetap ‘Eling lan Waspada’

JUMADI (50), hendak memandikan anaknya yang habis sunat. Tiba-tiba dia mendengar suara gemuruh sangat keras.

"Seperti ada truk yang sedang ngesok pasir secara terus-menerus. Kencang sekali. Kaca rumah juga bergetar. Saya langsung keluar rumah dan nengok ke arah atas. Ternyata (asapnya) sudah tinggi," kata warga Dusun Kaliurang Barat Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem tersebut, Jumat (11/5/2018).

Setelah tahu suara itu bersumber dari Gunung Merapi, dia langsung melarikan diri ke Balai Desa Hargobinangun yang memang menjadi titik pengungsian sementara. Dijalan sudah banyak warga yang juga mengevakuasi sendiri.

Di balai desa juga sudah ada ratusan warga lain yang mengungsi sementara. Didalam tampak orangtua, anak-anak hingga warga penyandang disabilitas. Tak lupa mereka juga mengenakan masker mengingat hujan abunya cukup deras.

Sejumlah warga secara sukarela membagi-bagikan masker kepada pengendara yang melintas. Mereka ada yang

Warga lain, Eko (42) mengaku selang satu menit pasta erupsi langsung terjadi hujan abu. Dia langsung menjemput anaknya di sekolah dan selanjutnya ke balai desa untuk menyelamatkan diri.

"Suaranya seperti ada truk dump yang sedang nurunin pasir. Keras sekali. Khawatir ada erupsi susulan, saya lalu menyelamatkan diri," kata warga Kaliurang Barat ini.

Selain itu, sejumlah sekolah juga memilih untuk menghentikan aktivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Demi keamanan, siswa dipulangkan. Seperti yang terpantau di SMPN 2 Pakem.

Salah satu pengajar di SMPN 2 Pakem Suwardi menuturkan, total ada 360 siswa di SMPN 2 Pakem. Ketika kejadian, semua siswa sedang ada di kelas untuk KBM. Pukul 08.00 WIB semua siswa dikumpulkan dan diberi pengarahan di halaman sekolah.

"Setelah itu mereka kita pulangkan. Dan ternyata sudah banyak wali murid yang ingin menjemput. Bagi yang belum dijemput, tidak diperbolehkan pulang. Karena ini demi keselamatan bersama," ungkapnya.

Pantauan KRJOGJA.com di Dusun Kopeng Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan
Sleman, pasca kejadian banyak warga panik dan berhamburan keluar rumah. Bahkan ada beberapa ibu-ibu yang menangis setelah melihat abu vulkanik membumbung tinggi. Mereka seakan teringat kejadian erupsi
Gunung Merapi 2010 silam.

Berdasar penuturan salah satu warga, Ngadimin (50), sebelum erupsi dirinya mendengar suara gemuruh dari gunung Merapi. Suara itu terjadi setelah ada material yang ambrol ke dalam kawah hingga menyebabkan
gemuruh dan erupsi abu vulkanik. "Kira-kira setengah delapan pagi ada suara gemuruh. Setelah itu banyak ibu-ibu yang nangis dan warga berhamburan keluar rumah untuk evakusi diri," tuturnya.

Sementara Komandan Unit Cangkringan SAR DIY Joko Irianto menjelaskan, siang sekitar pukul 11.30 WIB warga Cangkringan sudah terpantau kondusif. Warga yang tadinya dievakuasi ke barak penampungan atau pos aman kemudian pulang ke rumahnya masing-masing. Dalam laporannya, tidak ada korban materiil maupun korban jiwa.

"Sebelumnya memang tidak ada tanda-tanda akan adanya erupsi gunung Merapi. Karena ini erupsi freatik, maka semua bisa kembali normal lagi. Hanya saja, setelah kejadian kami langsung meluncur ke lokasi untuk mengondisikan warga. Untungnya warga di Cangkringan sudah sigap dan menerapkan manajemen bencana dengan baik. Karena yang kami takutkan jika warga panik dan evakuasi diri asal-asalan atau tergesa-gesa justru bisa berakibat fatal. Tapi ternyata semua bisa lancar saat proses evakuasi," terangnya.

Usai SAR DIY yang berada di lokasi, kemudian disusul Koramil dan Polsek Cangkringan untuk menyisir di Kawasan Rawan Bencana (KRB). Lantaran sudah kondusif, pihaknya mengimbau warga untuk tetap waspada,
terlabih di radius 2 km dari puncak Merapi.

Terpantau KRJOGJA.com mulai pukul 10.30 WIB di Kecamatan Cangkringan warga sudah kembali beraktifitas. hanya saja beberapa objek wisata ditutup untuk beberapa waktu.

Sementara di Desa Purwobinangun Kecamatan Pakem ada 169 warga memilih untuk mengungsi ke Tempat Evakuasi Akhir Purwobinangun. Bebebrapa diantaranya sempat mendapat perawatan tim dokter karena merasakan pusing-pusing dan sesak akibat abu vulkanik.

"Desa sudah siap dengan logistik jika nanti warga memilih untuk mengungsi di barak pengungsian. Semua sudah disiapkan," tegas Kepala Desa Purwobinangun, Heri Suasana.

Ia menambahkan, awal terjadinya semburan abu, warga panik dan berbondong-bondong datang ke tempat evakuasi akhir. Namun, bebebapa diantaranya sudah kembali kerumah saat kondisi sudah mulai stabil, sementara para relawan dan pihak kepolisian masih berjaga-jaga.

"Warga sudah dievakuasi lebih dahulu ke Lapangan Tritis, setelah itu dibawa ke tempat evakuasi akhir. Kita sudah siapkan makanan untuk warga yang mengungsi, semua siap jika mereka memilih untuk menginap," tegasnya lagi.

Sementara itu, kawasan agro wisata Kinahrejo ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan, selepas erupsi freatik gunung tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya erupsi susulan dan meminimalisasi korban jiwa.

"Kami melihat perkembangan saja, kalau ini dikatakan aman, maka kami akan buka lagi jalur wisata ini," jelas Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Eko Sulistyawan ketika dijumpai KRJOGJA.com di Kinahrejo. Menurutnya, tim gabungan dari BPBD DIY, Polisi Kehutanan DIY, kepolisian dan warga setempat tidak melarang adanya aktivitas wisata di daerah itu. Namun, wisatawan diharapkan tidak melanjutkan kegiatan wisata sebelum kondisi dinyatakan aman.

"Letusan Merapi yang ini tidak ada pertanda sebelumnya. Tiba-tiba erupsi saja, jadi kami juga langsung berkoordinasi. Kami tutup karena jalanan licin akibat pasir dan material halus dampak erupsi dan jalanan masih berbatu. Syukur, warga di sini juga tanggap bencana, mereka mengikuti prinsip eling lan waspada," kata Eko.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan mengungkap, total warga yang sempat menyelamatkan diri ada 10 ribu. Mereka adalah warga dari Kecamatan Pakem, Cangkringan dan Turi. Paling banyak warga yang mengungsi dari Desa Glagaharjo dan Hargobinangun.

"Sekitar pukul 09.35 WIB warga sudah kembali ke rumah masing-masing. Karena sudah ada informasi adanya penurunan ketinggian kolong erupsi mencapai 5,5 kilometer menjadi 2 kilometer," jelas Makwan.(Awh/Adk/Yud/M-1)

BERITA REKOMENDASI