Waspada Antraks, Jangan Tergiur Hewan Harga Murah!

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Gunungkidul sudah dinyatakan KLB Anthrax oleh Kementrian Kesehatan. Dominasi sebaran ternak yang mencapai 70 persen dari seluruh DIY hingga adanya 27 warga positif menjadi alasan mengacu pada timbulnya penyakit menular tertentu yang sebelumnya tak pernah ada atau tak dikenal pada suatu daerah.

Anthrax merupakan penyakit yang kerap disebut sapi gila, disebabkan bakteri Bacillus anthracis yang menghasilkan spora. Spora tersebut dapat hidup di tanah dalam keadaan tidak aktif dan akan berubah aktif ketika masuk ke dalam tubuh binatang atau manusia.

Prof AETH Wahyuni, dari Departemen Mikrobiologi FKH UGM mengungkap salah satu dugaan munculnya Anthrax di Gunungkidul yakni karena karakter tanah kapur yang mendominasi daerah tersebut. Meski membutuhkan penelitian lebih lanjut, namun Wahyuni sempat melakukan percobaan membawa sample darah hewan mati positif Anthrax dengan kapur yang ternyata membuat spora menjadi lebih nyaman dan berkembang.

“Ternyata spora ini suka dengan kapur, adanya CaCO3 itu bakterinya atau spora lebih nyaman di situ. Saya pernah menggunakan media kapur ditempelkan leleran darah sapi positif anthrax itu untuk dibawa ke laboratorium dan ternyata bisa tumbuh sporanya,” ungkapnya pada wartawan dalam temu media di UGM, Sabtu (18/1/2020).

Penanganan pada ternak mati positif Anthrax menurut Wahyuni harus mendapat perhatian lebih jauh. “Jangan hanya dikubur saja, namun harus dibakar hingga habis dan nantinya lokasinya disemprot disinfectant. Bakterinya Bacillus anthracis sebenarnya sudah mati dengan dipanaskan 56 derajat dalam waktu setengah jam. Tapi sporanya itu yang masih harus dibuktikan lagi lebih lanjut. Adanya spora di tanah bisa menyebar kemanapun dan kita sulit menentukan posisi spora ada di mana,” ungkapnya lagi.

Sementara dr Riris Andono Ahmad dari Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM menyampaikan penanganan pada manusia sendiri dilakukan dengan memberikan antibiotik. Bakteri Anthrax menurut dia masih sangat sensitif terhadap antibiotik sehingga bisa maksimal penanganannya.

“Anthrax pada manusia bisa mengenai pada kulit, saluran pernafasan dan pencernaan. Paling sering terjadi pada kulit, tapi yang paling berbahaya adalah pada saluran pencernaan. Terkait 27 positif Anthrax di Gunungkidul, penanganan dengan antibiotik kalau ada yang saluran cerna perlu ada penanganan lebih intensif. Terpenting pengobatan secara dini, di layanan primer seperti puskesmas tenaga kesehatan kami harapkan untuk bisa sigap dan waspada bila ada kasus mengarah ke anthrax untuk segera koordinasi dengan dinas kesehatan,” tandas dia.

Prof Ali Agus, dari Fakultas Peternakan UGM pun memberikan saran agar saat ini mobilisasi ternak di lokasi terdampak harus dihentikan sementara. Di samping itu, rumah potong hewan harus memastikan mendapatkan hewan yang sudah memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dan tak tergiur hewan dengan harga murah.

“Tak hanya di Gunungkidul saja, tapi di seluruh daerah harus mengedepankan kehati-hatian. Pengetahuan publik terkait Anthrax ini juga perlu diperhatikan agar tak takut berlebihan namun tetap siap siaga,” ungkap Ali. (Fxh)

 

 

BERITA REKOMENDASI