Waspada! Modus Pencuri ATM Ini Bikin Geleng-geleng Kepala

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN (KRjogja.com) – Dua tersangka pencurian di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) ditangkap saat menguras uang korban di ATM yang berlokasi di sebuah rumah sakit. Dari tangan tersangka, petugas menyita 98 kartu ATM berbagai bank yang akan ditukar dengan ATM asli milik korban. Kedua tersangka yakni San (58), warga Sulawesi Selatan dan AI (34) asal Jakarta Utara. 

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY Kombes Pol Hadi Utomo menegaskan, aksi keduanya murni pencurian. Tidak ada unsur gendam yang dilakukan tersangka. Saat beraksi tersangka mempengaruhi dan memanipulasi rasa hingga akhirnya korban menuruti perintahnya. Kedua pelaku mempunyai peran berbeda. 

Tersangka AI mendekati korban dan mengaku sebagai supplier alat kesehatan. Saat tersangka AI ngobrol dengan korban, tersangka San ikut bergabung dan mengaku sebagai warga Brunai Darussalam dan bertanya tentang yayasan sosial. San ingin menyumbangkan uang, namun tidak tahu bagaimana harus menyalurkan.

Baca juga:
Pencuri ATM Dibekuk, Astaga! Profesor juga Pernah 'Kapusan'

Antisipasi 'Skimming', Yuk Coba Tips Aman dari BI Ini
 

"Tersangka AI bersandiwara membantu menyalurkan bantuan dengan maksud agar korban juga mau melakukannya. Akhirnya, korban dan kedua tersangka pergi ke mesin ATM. Supaya korban percaya, tersangka San menunjukkan jumlah uang di rekeningnya yang tertera Rp 900 juta. Namun angka tersebut adalah fiktif," papar Hadi Utomo.

Tersangka kemudian membujuk agar korban memperlihatkan jumlah uang di rekeningnya. Saat itulah tersangka mengintip dan mengetahui nomor PIN ATM korban. Tersangka AI mencoba meminjam kartu ATM korban untuk melihat lebih detail, sedangkan tersangka San mengalihkan perhatian dengan meminta nomor telepon korban. Saat itulah tersangka menukar kartu ATM korban dengan kartu ATM yang sama persis.

"Sindikat ini sudah beraksi di kota-kota besar lainnya, seperti Surabaya, Jakarta, Bandung dan Lampung. Kami masih berkoordinasi dengan pihak bank. Bagaimana tersangka bisa menunjukkan nominal uang mencapai Rp 900 juta untuk memperdaya korban, padahal angka itu fiktif," kata Hadi. (R-2)

BERITA REKOMENDASI