Waspadai Penipuan Modus Investasi, Di DIY Kerugian Korban Capai Rp 2,6 M

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Masyarakat diimbau waspada jika ada tawaran investasi dengan iming-iming keuntungan yang berlipat ganda. Alih-alih mendapatkan keuntungan besar, mereka malah akan menanggung kerugian hingga miliaran rupiah.

Dinavia Tri Riandari dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY menyebut, ada beberapa ciri investasi bodong atau ilegal. Pertama, menjanjikan keuntungan yang tinggi disertai dengan bonus-bonus. Investasi bodong, lanjutnya, biasanya juga akan menggunakan tokoh pemuka agama atau tokoh terkenal untuk mengajak berinvestasi.

“Jika ada yang mengajak dengan iming-iming keuntungan besar dan tanpa resiko, sudah pasti bodong. Jadi sebelum berinvestasi, sebaiknya mengecek legalitas perusahaan tersebut. Jika setelah berinvestasi mulai menemukan kejanggalan, segera tarik uangnya kemudian lapor ke polisi,” ujar Dinavia Tri saat menjadi pembicara dalam acara talk show bertemakan Waspadai Investasi, Sabtu (17/04/2022).

Acara tersebut diselenggarakan oleh Ditbinmas Polda DIY dan berlangsung di Jogja City Mall (JCM). Sedangkan Kompol Hario Duto SIK mewakili Dirreskrimsus Polda DIY Kombes Pol Roberto Gomgom Manorang Pasaribu SIK mengungkapkan, ada tiga aduan terkait penipuan modus investasi yang diterima jajarannya. Dari tiga laporan itu, total kerugian para korban diperkirakan mencapai Rp 2,6 miliar.

“Awalnya aplikator memasukkan korban ke grup WhatsApp yang berisi para praktisi- praktisi. Di situ dijelaskan yang sudah mendapatkan keuntungan dan mendapatkan reward, sehingga calon korban ini tertarik,” ujarnya.

Mereka kemudian menginvestasikan uang dengan nominal puluhan juta rupiah dan di awal mendapatkan keuntungan. Hal itu bertujuan, agar mereka tertarik kembali berinvestasi dalam jumlah yang lebih besar. Namun selang dua hingga tiga bulan kemudian, reward tidak diberikan dan uang investasi tidak bisa ditarik.

“Saat gelombang kedua investasi dengan nominal yang lebih besar itulah, pelaku mengambil keuntungan. Kemudian aplikator akan menutup akunnya, sehingga korban tidak dapat menarik dananya,” ungkap Hario.

Bagi masyarakat yang sudah menjadi korban, ia mengimbau agar membuat kelompok kemudian menunjuk penasihat hukum. Setelah itu, hitung jumlah kerugian seluruh korban, agar jika nanti polisi melakukan sita aset para tersangka, bisa dikembalikan ke korban. “Kemungkinan pengembalian uang ke korban itu ada, meskipun mungkin jumlahnya tidak sebesar yang sudah dikeluarkan,” pungkasnya.

Sedangkan Sekretaris Tim Gugus Tugas Ketangguhan Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY, Timotius Apriyanto menegaskan, jika keuntungan yang diberikan lebih dari 10 persen, dipastikan itu legal. “Jika sudah dijanjikan lebih dari 10 persen, itu resiko tinggi dan bisa dipastikan bodong. Karena proses produksi itu butuh biaya tinggi, bayar pajak, biaya distribusi dan lain-lain. Sehingga tidak mungkin memberikan keuntungan lebih dari 10 persen,” tandasnya.

Kasubdit Bintipsos Ditbinmas Polda DIY AKBP Tri Novi mengatakan, kegiatan tersebut digelar untuk memberikan edukasi ke masyarakat terkait kewaspadaan berinvestasi. “Talkshow ini dilakukan di 100 mall yang ada di 15 Polda dalam upaya edukasi terkait penipuan bermodus investasi,” ujarnya. (Ayu)

BERITA REKOMENDASI