Yenny Wahid: Peranan Agama Kuat Untuk Melawan Global Warming

Editor: Agus Sigit

SLEMAN, KRJogja.com – Masyarakat agama harus dilibatkan dalam perjuangan melawan global warming  yang berakibat pada Climate Change (perubahan iklim). Agama mempunyai pengaruh luar biasa terutama dalam mengatur emosi masyarakat.

Hal ini ditegaskan oleh Yenny Wahid, puteri ke-2 Mantan Presiden keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid (Gur Dur) yang menjadi salah satu delegasi yang hadir dalam Konferensi Perubahan Iklim COP25 UNFCCC di Madrid, Spanyol pada 4 – 13 Desember 2019 lalu. Yenny menyampaikan pentingnya pergerakan agama dalam perubahan iklim.

"Umat beragama di dunia harus dilibatkan karena menurut World Economic Forum, setidaknya 84 persen masyarakat dunia menganut agama / keyakinan tertentu. Nah, ini adalah sebuah kekuatan yang harus dibangkitkan namun tidak bisa kita sodori data saja dan mengharap mereka untuk terlibat," ungkapnya saat ditemui usai penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada ibundanya, Sinta Nuriyah Wahid di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (18/12).

Yenny menjelaskan Persoalan perubahan iklim ini persoalan besar yang dihadapi manusia. Perlu adanya perubahan perilaku agar tidak terjadi bencana ekologis yang melanda siapapun.

Dalam hal ini penting untuk melibatkan tokoh-tokoh agama secara masif dan konkret. Ia menyoroti ironi yang terjadi dalam masyarakat bahwa persoalan perubahan iklim cenderung hanya dibicarakan oleh kelompok tertentu saja seperti aktifis lingkungan hidup, ilmuwan, dan akademisi yang dinilai dampaknya tidak terlalu besar.

"Semua akan terkena dampaknya. Mau dia orang terkuat di dunia, orang paling lemah di dunia, kaya atau miskin semua akan kena dampak. Orang beragama atau tidak beragama dia kan tetap kena dampak perubahan iklim, artinya kita tidak punya pilihan untuk diam saja, kita harus bertindak karena nasib kita tergantung pada upaya tiap individu, punya kewajiban yang sama karena dia sendiri akan kena dampak secara pribadi," paparnya.

Yenny mengaku sudah mulai dilakukan pergerakan dengan melibatkan tokoh-tokoh agama namun belum terencana secara sistematis. Ia mengatakan sebetulnya sudah ada Komunitas-komunitas agama terkait perubahan iklim seperti Muslim for Climate Change, Chatolic Climate Change, Budhis For Climate Change, Hindu For Climate Change.

"Kalau saya sendiri membuat gerakan Eco Islam jadi lebih masif lagi. Masyarakat akan dilibatkan untuk mengubah gaya hidup, lebih peduli pada masalah ini (climate change), dan mengubah kesadaran," imbuhnya.

Eco Islam baru mulai diluncurkan beberapa bulan lalu, bermitra dengan Lembaga yang berasal dari Negara Jerman dan akan lebih masif lagi dengan mengajak masyarakat dengan tindakan edukatif pada seluruh komponen dan elemen masyarakat. (C-4)

 

 

BERITA REKOMENDASI