Youth Center di Cebongan Bakal Dijadikan Tempat Karantina Pemudik

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pemkab Sleman mempersiapkan Youth Center di Jalan Kebon Agung Mlati untuk dijadikan sebagai tempat karantina bagi para pemudik yang akan pulang kampung ke kabupaten ini. Nantinya para pemudik akan dikarantina selama 14 hari sebelum akhirnya dinyatakan sehat dan bisa pulang ke daerahnya masing-masing.

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun menyampaikan saat ini pemkab telah mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk menjadikan gelanggang pemuda tersebut sebagai tempat karantina pemudik. Nantinya pemkab akan menjamin pemudik tersebut selama di tempat karantina mulai dari kesehatan, kebutuhan makan sehari-hari hingga tenaga yang merawat di sana.

“Kita sudah menyiapkan, untuk mondok dan makannya juga dijamin. Sudah ada anggaran yang kami siapkan untuk mereka selama menjalani karantina 14 hari,” jelas Sri Muslimatun saat meninjau pembuatan alat pelindung diri (APD) di Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Anggota Komisi VI DPR RI Subardi, Sabtu (04/05/2020).

Sri Muslimatun mengungkapkan, tempat karantina di Youth Center diperkirakan bisa untuk menampung hingga seratus pemudik. Jika nantinya para pemudik yang dikarantina melebihi kapasitas maka pemkab telah menyiapkan opsi lain untuk dijadikan tempat penampungan.

“Jika Youth Center sudah penuh maka kami akan memanfaatkan gedung Diklat Kementerian Dalam Negeri di Kalasan. Kami sudah mendapatkan izin dan tinggal menggunakannya saja,” tambah Sri Muslimatun.

Ia menambahkan para pemudik yang dikarantina merupakan mereka yang kedatangannya tidak diterima oleh keluarga maupun warga, atau memang dengan sukarela melakukan karantina di Youth Center. Namun jika warga telah menerimnya maka tak perlu dimasukan ke Youth Center, namun tetap harus melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing.

Sementara itu Subardi sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Pemda DIY dalam menangani dan memerangi Virus Corona di daerah ini. Ketua DPW NasDem DIY tersebut menilai apa yang dilakukan pemda sangat evektif, baik dalam penanganan maupun cara menumbuhkan semangat dan kesadaran masyarakat.

“Begitu Ngarso Dalem memberikan instruksi, masyarakat segera muncul kemandirkannya. Masyarakat jaga diri, melindungi dirinya sendiri hingga melakukan isolasi secara mandiri,” jelasnya.

Subardi mengatakan pandemi Corona yang melanda negeri ini harus dihadapi bersama-sama. Masyarakat harus melaksanakan seluruh anjuran maupun mentaati larangan kesehatan yang telah ditentukan dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Ia juga mendukung inovasi yang dilakukan UII dalam upaya menyediakan alat pelindung diri (APD). Subardi berharap nantinya program ini dapat melibatkan pelaku UMKM maupun para buruh yang saat ini usahanya tengah terpuruk ditengah wabah Corona.

“Ketika mereka saat ini menganggur dan tidak ada nafkah, kemudian kita bareng-bareng untuk membuat APD kemudian menjual maka itu bisa untuk menghidupi mereka. Dengan itu kita juga tidak perlu impor karen bisa menyediakan APD sendiri,” tegasnya.

Rektor UII, Fathul Wahid ST MSc PhD mengatakan program ini diharapkan dapat membuka peluang bagi perguruan tinggi yang dipimpinnya untuk lebih meningkatkan peran dalam masyarakat. Sehingga ditengah pandemi Corona ini UII dapat berkontribusi untuk bersama-sama menghadapainya.

“Selain membuat APD, kami juga membuat cairan pembersih tangan maupun melakukan kegiatan sosial lain seperti penyemprotan disinfektan hingga sosialisi bahaya Corona melalui poster atau media sosial. Dalam upaya ini seluruhnya kami libatkan, termasuk mahasiswa,” jelasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI