Sultan HB X-Ridwan Kamil Jalin Kerjasama Harmonisasi Jawa-Sunda, Memperkuat Persatuan Bangsa

YOGYA, KRJogja.com  – ‘Kudi silih-asih, silih-asah, jeung silih-asuh’ adalah pepatah Sunda yang menganjurkan, untuk saling mengasihi, saling mengajari dan saling menjaga satu sama lain, agar tercipta iklim kerja sama, sarat kedamaian. Itulah tujuan kehadiran Delegasi Gubernur Jawa Barat ke Yogyakarta.

Demikian disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamangku Buwono X saat menyambut kunjungan delegasi Gubernur Jawa Barat ke Yogyakarta di di Rama Shinta Garden Resto, kompeks Candi Prambanan, Rabu (1/12) malam.
Dalam acara itu Sri Sultan HB X didampingi isti Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Demikian juga Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil didampingi istri Atalia Praratya. Acara dimeriahkan Tari Topeng Losari khas Jawa Barat dan Tari Ramayana khas Yogyakarta. Dalam acara itu menunjukkan persahabatan antaran Jawa Barat dengan DIY, Ridwan Kamil dan Sultan HB X.

Menurut Sultan, kunjungan persahabatan ini, yang ditandai Cultural-Exchage Pesona Budaya Jawa Barat, adalah perintisan kerja sama pariwisata, budaya dan ekonomi kreatif dalam bentuk kolaborasi dan strategi untuk bangkit bersama guna pemulihan ekonomi kedua provinsi. Dalam acara itu juga dilakukan penandanganan MoU tentang Pengembangan Potensi Daerah dan Peningkatan Pelayanan Publik.

“Kemauan baik itu, tentu harus kita sambut dengan tangan terbuka dan lapang dada. Dalam arti, DIY pun memiliki niat baik yang sama untuk menjalin kerja sama dengan mitra strategis yang wilayahnya berbatasan, sehingga memungkinkan adanya transaksi cross-border,” kata Sultan.

Lebih lanjut Sultan menuturkan, kerja sama akan berkelanjutan dengan disemangati oleh makna pepatah Urang Sunda yang disebutkan di awal sekaligus ungkapan simbolis ‘Selamat Datang’.

Dalam outward-looking, kesamaan potensi dapat disinergikan menjadi akumulasi energi untuk meningkatkan potensi dan daya-saing di pasar global. Sebaliknya jika berbeda keunggulan, secara inward-looking, seperti dikiaskan dalam kata saling-asah, bisa digunakan untuk pengayaan keragaman diferensiasi produk guna melayani pasar yang sama, terutama produk software dari start-up.

“Jika saling-komplementer kita bisa saling mengisi kebutuhan penduduknya. Dampak sampingannya, kita bisa saling berbagi metode dan teknologi untuk peningkatan nilai-tambah bagi produk masing-masing,” kata Sultan.

Dalam pengembangan industri pariwisata, setelah tersambungnya JJLS dapat disusun paket tour bersama untuk menyusuri pesona pantai Selatan dengan pelayanan oleh pramuwisata lokal, sehingga tidak perlu saling kawal guide ke masing-masing destinasi wisata.  Sedangkan dalam Pelayanan Publik, DIY akan banyak menimba pelajaran dari penyelenggaraan Pelayanan Terpadu melalui Integrated System Smart Province.

Sedangkan, Ridwan Kamil mengapresiasi upaya Sultan HB X yang membangun komunikasi untuk merajut sejarah yang sempat patah, menyambut masa depan yang lebih cerah dengan sejarah baru. “Bapak Sultan sudah mengizinkan ada nama Jalan Padjajaran dan Siliwangi di Yogyakarta. Begitu pula di Kota Bandung, di belakang Gedung Sate ada nama Jalan Hayam Wuruk dan Majapahit. Penguatan budaya Jawa-Sunda secara konkrit baru ada di era Sultan HB X,” ujarnya.

Selain itu, Ridwan Kamil mengaku prihatin banyak sekali narasi pertengkaran di ruang publik yang begitu bising. Oleh karena itu wajah persatuan, narasi kebersamaan perlu diperkuat dan diperbanyak lagi. Penguatan budaya Jawa-Sunda yang diinisiasi oleh Sultan HB X adalah langkah konkrit.

“Setelah ini akan dilanjutkan babak selanjutnya dengan saling mengunjungi dan menguatkan. Narasi penguatan budaya Jawa dan Sunda menjadi penyejuk di situasi negeri yang agak panas dan bising ini,” katanya. (Dev)

 

BERITA REKOMENDASI