Tetenger SO 1 Maret Fakta Sejarah Perjuangan Rakyat Indonesia

YOGYA, KRJOGJA.com – Tetenger Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949 di Keben Kraton Ngayogyakarta merupakan fakta sejarah. Generasi muda dan anak-anak sebagai generasi penerus perlu mengetahui fakta sejarah tersebut. SO 1 Maret 1949 merupakan prakarsa Sultan Hamenku Buwono IX yang disetujui oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman, sebagaimana tertulis dalam prasasti tersebut.

Hal ini dikemukakan oleh Pengageng Tepas Dwarapura Kraton Ngayogyakarta KRT H Jatiningrat SH di lokasi Tetenger SO 1 Martet 1949 di Keben Kraton Ngayogyakarta kepada KR, Kamis (27/2/2020). Saat itu panitia Peringatan SO 1 Maret 1949 dari Badan Pengurus Cabang Paguyuban Wehrkreis (Daerah Perlawanan) III Yogyakarta atau PWK III Yogyakarta menyelenggrakan kegiatan kerja bakti bersih-bersih tetenger.

“Generasi muda perlu tahu tentang sejarah itu,” kata KRT Jatiningrat. Maka pihaknya mengapresiasi panitia yang juga mengajak generasi muda dan anak-anak ikut dalam kegiatan tersebut. Tetenger diresmikan pada 29 Juni 2000 oleh Sultan Hamengku Buwono X bersamaan dengan peringatan Yogya Kembali.

Ketua Panitia S Sudjono menyebutkan selain dari anggota PWK III, juga melibatkan masarakat di sekitar tetenger. Siswa sekolah yang lokasinya dekat dengan tetenger diundang meskipun bukan untuk ikut kerja bakti. Tetapi agar mereka tahu sejarah. Juga para pedagang di sekitar tetenger. Acara bersih-bersih tersebut juga dihadiri Camat Kraton Drs S Widodo Mudjiyatna, dari Polsek dan Koramil Kraton.

Beberapa pelaku sejarah juga hadir ikut melakukan bersih-bersih. Salah satu diantaranya adalah Djuwariyah Suhardi (86) yang pada waktu terjadinya SO 1 Maret 1949 bertugas sebagai kurir dan palang merah. Djuwariyah menceritakan pengalamannya dan memotivasi anak-anak SD yang ikut hadir pada kegiatan pagi itu.

Salah satu pengalaman Djuwariyah adalah ketika menjalankan tugas masuk kota, terlambat kembali ke luar kota. Sirine sudah berbunyi karena sudah gelap. Tanpa setahunya tiba-tiba sudah ada mobil jip Belanda berhenti di dekatnya. Djuwariyah takut bukan main, apalagi dalam keranjang buah yang dia bawa, di bawahnya ada pistol. Itu terjadi di Alun-alun Kidul, karena Dhuwariyah baru saja mampir ke Bangsal Prabeya tempat pejuang berkumpul.

Untung pistol yang ditutupi buah-buahan tidak ketahuan. Kalau ketahuan pasti habis riwayatnya. Waktu itu umur Djuwariyah masih 15 tahun, beruntung ada KNIL orang Jawa yang baik hati. Kemudian Djuwariyah diantar pulang ke Suryatmajan. Tetapi Djuwariyah tidak menunjukkan mana rumahnya yang sebenarnya. Markas Djuwariyah ada di Jejeran Pleret Bantul. Pada waktu SO 1 Maret 1949 Djuwariyah ikut masuk menyerbu Kota Yogya sebagai tenaga palang merah. Djuwariyah menyaksikan langsung pejuang kita yang gugur.(War)

BERITA TERKAIT